BANJARMASIN – Penjual tanggui alias caping, penutup kepala terbuat dari daun nipah kering berbentuk setengah lingkaran yang merupakan khas Banjar ternyata sudah menjadi langganan tujuan wisata mancanegara sejak zaman Belanda.
Sejarawan Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, Mansyur menukil tulisan AC Krusemen (1922) dalam tulisannya Aarde en haar volken, menceritakan bahwa Hotel Bandjer yang menjadi satu-satunya hotel di Banjarmasin pada masa itu ternyata sudah menawarkan layanan susur sungai di Banjarmasin.
Salah satu tempat tujuan untuk dikunjungi wisatawan adalah toko terapung penjual tanggui. Lokasinya di wilayah Kuin.
“Hal paling menarik adalah mengunjungi penjual tanggui (caping) khas Banjar,” ujarnya.
Bagian kanan hotel menawarkan view menghadap sungai Martapura. Tidak salah jika itu menjadi salah satu hal yang menarik minat wisatawan.
Susur sungai diadakan manajemen hotel setiap jam 4 sore. Melayani rute perjalanan sepanjang sungai ke wilayah Marabahan.
Bagi wisatawan yang ingin tahu layanan apa saja yang didapat jika menginap di Hotel Bandjer, biasanya membaca iklan di surat kabar Soerabaiasch Handelsblad.
Dalam surat kabar tersebut dituliskan hotel berperingkat satu di Bandjermasin memberikan pelayanan lengkap dengan berbagai fasilitasnya yang memanjakan wisatawan.
Dibangun berbentuk paviliun di tepian Sungai Martapura, berdekatan dengan Kantor Pos dan benteng Tatas. Dilengkapi hiburan biliar dan meja baca.
Terdapat dermaga untuk tempat bersandarnya perahu yang membawa pelancong. Makanan yang disajikan sangat baik, serta dilengkapi sambungan listrik. Untuk bahasa pengantar di hotel ini bisa menggunakan Bahasa Jerman, Perancis, dan Inggris.
Berdirinya Hotel Bandjer yang kemudian berubah nama menjadi Grand Hotel Bandjer, tidak terlepas dari ramainya kegiatan kepariwisataan masa Hindia Belanda.
Dimulai secara resmi sejak tahun 1910-1912 setelah keluarnya keputusan Gubernur Jenderal atas pembentukan Vereeneging Toeristen Verkeer (VTV) yang merupakan suatu biro wisata pada masa itu.
Untuk memberikan pelayanan kepada mereka yang melakukan perjalanan ini, maka didirikan pertama kali cabang Travel Agent di Jalan Majapahit No 2 Jakarta, tahun 1926 yang bernama Lissone Lindemend (LISIND) yang berpusat di Negeri Belanda.
Tahun 1928, Lislind berganti nama menjadi Nederlandche Indische Touristen Bureau (NITOUR) yang merupakan jaringan dari KNIL. Saat itu, kegiatan pariwisata lebih banyak didominasi kaum kulit putih saja. Fungsi hotel pada masa itu banyak digunakan untuk penumpang kapal laut dari Eropa.
“Pada masa itu belum ada kendaraan bermotor untuk membawa tamu-tamu tersebut dari pelabuhan ke hotel dan sebaliknya. Karena itu maka digunakan kereta kuda,” tutup Mansyur.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief