Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Tahulah Pian, Kenangan Pedih Kinrohosi Pernah Terjadi di Tanah Laut

Norsalim Yahya • Rabu, 27 Maret 2024 | 11:43 WIB
PILU: Para pekerja Kinrohosi di Kabupaten Tala saat melakukan sejumlah pekerjaan yang diminta Pemerintahan Jepang.
PILU: Para pekerja Kinrohosi di Kabupaten Tala saat melakukan sejumlah pekerjaan yang diminta Pemerintahan Jepang.

PELAIHARI – Romusha merupakan kebijakan kerja paksa yang dilakukan Jepang terhadap masyarakat Indonesia semasa menjajah.

Selain Romusha, masih ada kebijakan-kebijakan lain yang diambil negara matahari terbit ini semasa menjajah, dan masih memiliki hubungan erat dengan kerja paksa.

Bahkan kebijakan ini pernah dirasakan masyarakat Bumi Tuntung Pandang pada masa itu. Kebijakannya adalah Kinrohosi.

Kinrohosi atau lebih dikenal dengan pekerja sukarela. Umumnya pekerjaan ini diperuntukan bagi tokoh masyarakat maupun para pelajar.

Ketua Sarekat Sejarah Tanah Laut (Tala), Hanapi Yanor Tajeli mengungkapkan para pekerja Kinrohosi yang terpilih diperlakukan kejam selayaknya pekerja Romusha. Terutama mereka yang usianya muda.

Pekerjaannya antara lain memperbaiki jalan dan jembatan, membantu pembangunan atau perbaikan lapangan terbang untuk angkatan udara Jepang. Berikutnya, membersihkan selokan atau drainase, menggali sungai untuk persawahan, dan terakhir membuat bendungan untuk irigasi.

Hanapi menceritakan ketika masuk ke Pelaihari untuk menghadapi sekutu, Jepang melakukan mobilisasi atau pengerahan massa para pekerja yang mereka tentukan. Para pekerja ini disanjung oleh Jepang sebagai prajurit pekerja. Mereka terdiri dari dua macam. Pertama, pekerja Kinrohosi yang anggotanya berasal dari Kalsel. Kedua, Romusha atau pekerja paksa yang didatangkan dari Pulau Jawa.

Pengerahan massa untuk bekerja sukarela (Kinrohosi) merupakan kewajiban bagi setiap pemuda di masing-masing desa. "Setiap desa diwajibkan oleh Pemerintahan Jepang untuk mengumpulkan pemuda guna dipekerjakan Jepang sebagai Kinrohosi," katanya.

Mereka bekerja kurang lebih selama satu bulan, atau sesuai dengan pekerjaan yang akan dilakukan. Di antara pekerjaan Kinrohosi adalah membangun lapangan terbang di Maluka (saat ini berada di Desa Maluka Baulin).

Kemudian membuat bunker-bunker di sekitar lapangan terbang sebagai pertahanan. "Dalam pembangunan itu banyak pekerja Kinrohosi tewas karena sakit, disiksa, kurang makan, dan terkena bom yang dijatuhkan sekutu," ujarnya.

Menurut Hanapi, masa kedudukan Jepang di Tala menyisakan kenangan pedih bagi pekerja paksa, baik itu Kinrohosi maupun Romusha. Banyak di antara mereka yang tidak bisa pulang ke kampung halaman atau desanya.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#jepang #Tanah Laut #Tahulah Pian #Sejarah #Penjajahan