Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Tahulah Pian, Masjid Syuhada di Balangan Punya Sejarah Ini

M Dirga • Senin, 25 Maret 2024 | 09:38 WIB
BERSEJARAH: Masjid Syuhada di Desa Hujan Mas, Kecamatan Paringin Kota. 
BERSEJARAH: Masjid Syuhada di Desa Hujan Mas, Kecamatan Paringin Kota. 

Tahulah Pian, di Kabupaten Balangan terdapat sebuah masjid yang sangat ikonik. Masjid tersebut memang bukan yang tertua di sana. Tapi, konstruksinya unik, serta diiringi sejarah panjang mewarnai perjalanannya, membuat masjid ini menjadi salah satu ikon kebanggaan warga Balangan.

Masjid Syuhada, namanya. Berada di Desa Hujan Mas, Kecamatan Paringin Kota. Masjid ini merupakan yang tertua kedua di Kabupaten Balangan, setelah Masjid Jannatul Ma'wa Juai.

Sejarawan setempat, Kurniawan menyebut Masjid Syuhada dibangun pada tahun 1930. Pendirinya adalah seorang ulama dan juga seorang pahlawan ternama di Balangan, H Arsyad bin H Syukur atau lebih dikenal dengan sebutan Kyai Martasura.

Sebelum membangun masjid, Kyai Martasura terlebih dulu mengadakan musyawarah dengan masyarakat setempat. Setelah diadakan pertemuan, warga kemudian bergotong-royong mencari dan menyiapkan bahan ke hutan mencari kayu untuk dijadikan bahan utama.

"Saat dibangun, masjid Syuhada penuh dengan perhitungan. Angka-angka yang terkandung didalamnya merupakan simbol dan memiliki makna filosofis," kata Kurniawan, saat dibincangi Radar Banjarmasin di Paringin, Minggu (24/3) petang.

Alumni pendidikan Sejarah FKIP ULM itu menuturkan, panjang bangunan 9 depa atau 12 meter. Berdasarkan perhitungan Arab, 9 merupakan angka tertinggi. Sedangkan 12 merupakan jumlah bilangan bulan dalam setahun. "Ini berarti diharapkan mencapai derajat tertinggi di antara manusia di hadapan Tuhan," ujarnya.

Lebarnya 6 depa, maksudnya rukun iman itu ada 6 perkara. Tinggi bangunan 5 meter adalah rukun Islam itu ada 5 perkara. “Jumlah tiang 9 buah mengandung arti wali penyebar agama Islam ada 9 orang," lanjut pria yang juga berprofesi sebagai tenaga pendidik di SMAN 1 Paringin itu.

Seiring berkembangnya zaman, konstruksi semakin termakan usia. Rehab pun dilakukan. Tiang penyangga kemudian ditambah menjadi 13 buah agar bangunan tetap kuat dan utuh. "Awalnya, Masjid Syuhada ini seluruh konstruksinya adalah kayu. Namun karena beberapa kali rehab, lantai dan sebagian tiang kini disemen," tambah Kurniawan.

Masjid ini tercatat mengalami dua kali rehab. Pertama di tahun 1990, dan yang kedua di tahun 2013. Rehab dilakukan tanpa mengubah keaslian bangunan utama masjid. "Tiang dalam masjid yang berjumlah sebanyak 13 buah. Semuanya asli kayu ulin, tak pernah diganti sampai saat ini. Paling dicat, kemudian disemen pondasinya saat rehab 2013 kemarin," ungkapnya.

Masjid ini dulu memiliki dua tiang penyangga utama atau tiang guru dari kayu ulin. Namun satu tiang jatuh ke sungai setelah serangan tentara Belanda. Dengan diameter sekitar 1 meter dan panjang sekitar 13 meter, tiang ini tidak memiliki sambungan sama sekali dari atas sampai bawah.

Selain itu, ada 12 tiang penyangga lainnya berukuran lebih kecil yang juga dari kayu ulin utuh. "Angka-angka tersebut erat kaitannya dengan perhitungan Islam seperti yang disebutkan tadi," ujarnya.

Dari penuturan Kurniawan pula, masjid ini dulunya juga difungsikan sebagai basis pertahanan dan berkumpulnya para pejuang dalam menghadapi perlawanan tentara Belanda dan sekutu. Masjid ini ditetapkan sebagai cagar budaya sejak tahun 2011 lalu.

Sejarah dan fakta itu juga yang membuat masjid ini sekarang menjadi salah satu tempat tujuan masyarakat lokal maupun luar Balangan untuk berwisata religi. Ada peninggalan masjid yang sampai saat ini masih terjaga, yakni gumbang atau tajau, yang dipercaya bisa menyembuhkan penyakit panas jika airnya dibasuhkan ke muka. Tajaunya langsung diisi dengan air hujan di tengah lapang, dan tak boleh kosong. “Jika kosong biasanya tajaunya berbunyi," ujarnya.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#Tahulah Pian #Balangan #Masjid #Sejarah