Masjid Jami Pandulangan berada di Desa Pandulangan Kecamatan Sungai Pandan, Kabupaten Hulu Sungai Utara. Jaraknya kurang lebih 10 kilometer dari Kota Amuntai.
Masjid ini termasuk cagar budaya yang dilindungi di Provinsi Kalimantan Selatan. Konon masjid ini sudah lama berdiri. Tercatat sudah ada sejak 1298 Hijriah atau 1878 Masehi.
Masjid ini punya ciri arsitektur perpaduan antara rumah khas masyarakat Banjar, dan perpaduan timur tengah dari segi atap condong membusur.
Masjid ini tidak terbuat dari beton. Namun berdiri dari susunan kayu Ulin Kalimantan yang dikenal sangat kokoh.
Tahulah pian, kalau masjid ini pernah roboh. Berpindah lokasi. Bangunan saat ini hasil renovasi masjid yang terjadi pada tahun 1878 silam, atau sekitar abad ke-18.
Sebagaimana ciri perkembangan agama Islam yang memilih jalur sungai dan laut, masjid ini juga berada tepat di tepi anak Sungai Negara yang ada di Hulu Sungai Utara.
Tokoh masyarakat Alabio, Ahdiat Gazali Rahman mengatakan warga Sungai Pandan lebih mengenalnya dengan nama Masjid Besar. Jarak masjid ini sekitar satu kilometer dari kantor pemerintahan kecamatan. “Pada masa kolonial, masjid ini salah satu terbesar di Kota Amuntai. Jauh sebelum kemerdekaan dan kabupaten ini terbentuk,” ujar Ahdiat.
Pensiunan Kepala SMAN 1 Amuntai ini menjelaskan bahwa masjid ini awalnya berdiri di satu kawasan yang disebut Kampung Pematang Benteng. Saat ini dikenal sebagai Desa Pematang Benteng. Masjid ini dipindah sekitar 500 meter ke Desa Pandulangan. “Jadi menurut kisah, masjid ini pernah roboh. Mulai dibangun kembali pada tahun 1878 Masehi,” ujarnya.
Saat dipindah masih ada menggunakan beberapa kayu bangunan lama. “Saat itu konon warga berembuk untuk membangun masjid yang baru. Tokoh masyarakat saat itu masih meminta mendirikan masjid di lokasi semula (Pematang Benteng, red),” ungkapnya.
Meskipun, tokoh masyarakat pada akhirnya menyetujui membangun masjid besar yang baru di Desa Pandulangan. Pada saat itu warga Pandulangan sangat antusias mengangkat kayu Ulin untuk digunakan kembali. Itu setelah masyarakat Pematang Benteng mengamini pendirian masjid di Pandulangan.
“Masjid ini memiliki satu tiang utama atau warga menyebutnya tiang guru. Ulinnya berdiameter kurang lebih 130 sentimeter dan tinggi 13,5 meter. Cukup tinggi untuk ukuran Ulin saat ini,” sampai Ahdiyat.
Tak hanya ada tiang utama, masjid ini juga memiliki empat tiang penyangga dengan diameter 160 sentimeter dengan tinggi 13 meter. “Ini cerita turun temurun. Konon saat bahan baku pembangunan masjid mau dipindahkan warga, khususnya tiang utama dan empat tiang lainnya, ternyata sudah berpindah ke lokasi pendirian masjid di Desa Pematang Benteng. Wallahu a'lam,” ungkapnya.
Dulu sebelum ada alat pengeras suara, jemaah masjid mengetahui waktu salat dari suara pukulan beduk. Lokasi azan pada lantai dua, masih bertahan sampai saat ini.
Masjid cagar budaya ini sering dikunjungi peziarah dari luar daerah. Apalagi ada makam Syekh Muhammad atau cucu dari Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari. Syekh Muhammad merupakan Datu dari Tuan Guru Bakhiet yang bermukim di Kabupaten Hulu Sungai Tengah.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief