Bagandut merupakan tarian tradisi khas Kabupaten Tapin. Tarian ini sudah masuk Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI tahun 2020 tadi.
Pegiat seni dan budaya Tapin, MS Arif memberitahukan bahwa Bagandut memang tarian asli Kabupaten Tapin. “Dulunya berkembang di daerah Margasari, Pabaungan, Pandahan, Parigi, Tatakan, hingga ke Rantau,” katanya.
Bagandut terbagi menjadi empat jenis tarian. Gandut Mangandangan, Mandung-Mandung, Gandut Manunggal, dan Gandut Karuncungan. “Tarian Gandut ditarikan oleh perempuan, dengan lenggang lenggok ragam khas tari Gandut,” ucapnya.
Penari berusaha menarik perhatian penonton yang hadir untuk ikut menari. “Jadi biasanya penonton yang ikut menari, akan meletakkan uang dalam sasanggan sebagai wujud berbagi dalam hiburan tari-tarian,” tuturnya.
Bagandut diambil dari kata Gandut yang berarti penari. Bagandut menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat pada masa dulu. “Karena ada beberapa pakem khusus dalam Bagandut,” tuturnya.
Sementara musik yang dipakai dalam Bagandut hanya 4 macam lagu. Di luar dari empat macam lagu tersebut maka hanya disebut Bajapinan. “Jadi lagu Mandung untuk tari Gandut Mandung-Mandung. Tariannya oleh sepasang laki-laki yang diambil dari penonton dan perempuan, di setiap hentakan lagu sang penari laki-laki menyerang si penari perempuan dengan maksud berusaha menyentuhnya,” tuturnya.
Kemudian lagu Mangandangan untuk tari Gandut Mangandangan. Tak berbeda dengan tari Mandung-Mandung, ragam tari ini juga dibawakan oleh sepasang laki-laki yang diambil dari penonton dan perempuan. “Perbedaan terdapat pada lagu dan gerak yang dibawa pada saat tarian,” tuturnya.
Tari Mangandangan lebih banyak bergerak menghalau gerak tari perempuan. “Jadi biasanya penari laki-laki pada tari Gandut Mangandangan ini adalah laki-laki yang mahir menari dan silat. Begitu juga dengan penari perempuannya,” katanya.
Tari Gandut Karuncungan merupakan penari laki-laki dan penari perempuan bergerak menari dengan bergandengan tangan ke kiri, kanan, depan dan belakang, seperti halnya tari salsa. “Ragam gerak yang dipakai hanya step 4, atau 4 langkah saja,” tuturnya.
Terakhir tari Gandrung Manunggal. Si laki-laki hanya duduk bersembunyi dalam sarung di arena gelanggang tari. “Sedangkan penari perempuan bergerak menggoda si laki-laki agar membuka sarungnya,” pungkasnya.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief