Tahulah Pian, Muara Bahan? Nama ini asal muasal munculnya nama Marabahan sebagai ibu Kota Kabupaten Barito Kuala (Batola).
Nama Marabahan sarat dengan sejarah. Muara Bahan berasal dari nama bandar niaga yang terletak di wilayah Rantauan Bakumpai.
Kala itu, kemajuan Bandar Muara Bahan seirama dengan kemajuan perdagangan Islam di Nusantara pada abad ke-15 yang tidak terlepas dari perhubungan melalui sungai di Kalimantan (Borneo) seperti pada Sungai Barito.
Sebelum munculnya Bandar Muara Bahan, sudah ada Bandar Niaga Muara Rampiau (Margasari), dan Muara Hulak (Daha Selatan) yang telah dikunjungi para pedagang berbagai bangsa pada masa Kerajaan Negara Dipa, Amuntai abad ke-12.
Para pedagang itu di antaranya dari Cina, Melayu, Johor, Aceh, Malaka, Minangkabau, Patani, Makassar, Bugis, Sumbawa, Bali, Jawa, Banten, Palembang, Jambi, Tuban, Madura, Walanda (Belanda), Makkau, serta orang Keling.
"Seiring waktu dan geomorfologi kedua bandar niaga itu menurun aktivitasnya, hingga kemudian aktivitas perdagangan berpindah dari Bandar Muara Rampiau ke Muara Bahan," ungkap Sejarawan Universitas Lambung Mangkurat Mansyur yang juga akademisi, kemarin (14/3).
Pada sisi lain, kata Mansyur, perpindahan itu menjelaskan strategisnya Sungai Barito. Karena sepanjang kurun niaga fase kerajaan Hindu-Buddha abad ke-8 hingga abad ke-15, Sungai Barito dan sungai di hulu sungai telah dilewati pedagang-pedagang dari luar Kalimantan Selatan dan Tengah.
Berdasarkan Hikayat Banjar sejak abad ke-13, Bandar Muara Bahan sebagai bandar niaga yang sangat ramai dikunjungi para pedagang dari berbagai bangsa. Itu terjadi sejak perdagangan Islam mengalami kemajuan pesat di laut Nusantara.
"Sejak itu kawasan Bandar Niaga Muara Bahan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari jalur pelayaran pedagang-pedagang muslim, baik dari Jawa, Sumatera, Johor, Persia, Gujarat, dan dari Cina," tuturnya.
Keramaian Bandar Muara Bahan juga tidak bisa dilepaskan dari interaksi etnis Bakumpai dengan pedagang-pedagang muslim yang datang dari luar.
Etnis Bakumpai kemudian melakukan perdagangan dengan komunitas lainnya. Terutama etnis Melayu, Jawa dan Bugis. Terlebih lagi etnis Dayak lainnya yakni Ma’anyan, Biaju (Ngaju), Bukit dan Lawangan. "Mobilitas dinamis perdagangan komunitas Bakumpai yang mendayung perahunya sampai ke sungai-sungai di pedalaman hulu sungai," katanya.
Sejurus itu intensifnya komunitas-komunitas Dayak lainnya menerima pedagang-pedagang Bakumpai, juga berpengaruh terhadap perubahan keyakinan (religiositas) saudara-saudara Dayaknya, yakni Dayak Ma'anyan, Bukit dan Lawangan.
Perubahan yang nyata ditandai dengan munculnya permukiman-permukiman Dayak Islam di hampir sebagian wilayah kawasan sungai di pedalaman Hulu Sungai hingga Tabalong Kiwa dan Tabalong Kanan.
Adapun, lokasi Bandar Muara Bahan terletak di Rantauan Bakumpai yang merupakan sebuah perkampungan terletak di tepi lintasan Sungai Bahan menuju kawasan Kuripan. Muara Sungai Bahan langsung terhubung dengan Sungai Barito.
Kota Muara Bahan sekarang disebut Marabahan berada di tepian Sungai Barito. Secara geografis sangat strategis, karena menghubungkan Muara Banjar dengan kawasan Hulu Sungai dan hulu Barito. "Komunitas yang menempati Rantauan Bakumpai adalah etnis Ngaju atau Biaju. Dalam berita Dinasti Ming (1368-1643), buku 323, dijelaskan bahwa orang Be-oa-jiu adalah suku besar orang Dayak di pedalaman," jelas Mansyur.
Perkembangan Bandar Muara Bahan tak luput dari jasa Raja Negara Daha, Raden Sekar Sungsang. Ia menunjuk anaknya, Raden Sira Panji Kesuma sebagai Syahbandar di Muara Bahan.
Gambaran mengenai Bakumpai dilaporkan oleh Schwaner dalam lawatannya di Marabahan sebagai bagian dari rangkaian pelayaran sepanjang aliran sungai Barito antara tahun 1845 dan 1847.
Kemajuan Muara Bahan dan etnis Bakumpai serta etnis Dayak lainnya digambarkan sebagai Kota Perahu. Berita Cina Dong Xi Yang Kao (1618), Buku IV, vol. 20, memiliki sebuah catatan, para wanita Negara ini menggunakan sampan kecil untuk mendekati kapal dan menjual makanan. Tetapi perdagangan secara umum dilakukan para pria.
"Mata uang yang digunakan saat itu, koin timah hitam. Kemajuan perdagangan Muara Bahan juga dijelaskan dalam Hikayat Banjar," pungkasnya.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief