Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Tahulah Pian, Ada Lubang Peluru di Mimbar Masjid Ath Thahiriyah Hulu Sungai Selatan

Wahyu Ramadhan • Senin, 4 Maret 2024 | 12:19 WIB
BERSEJARAH: Masjid Ath Thahiriyah di Desa Taluk Haur, Daha Utara, Hulu Sungai Selatan
BERSEJARAH: Masjid Ath Thahiriyah di Desa Taluk Haur, Daha Utara, Hulu Sungai Selatan

Di Desa Pasungkan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), berdiri sebuah masjid yang dibangun Syekh HM Thahir bin Syekh Syahbudin alias Datuk Daha. Nama masjid itu, Ath Thahiriyah.

Masjid ini berada di Desa Taluk Haur, Kecamatan Daha Utara. Lokasinya berjarak sekitar 250 meter dari pintu gerbang makam sang datuk.

Tak ada yang tahu, kapan masjid tersebut dibangun. Tak ada pula catatan lain yang bisa dijadikan rujukan. Warga setempat hanya mengatakan bahwa bangunan itu adalah masjid tua dan peninggalan Datuk Daha. Ini menjadi saksi bisu sejarah, ketika sang datuk menyebarkan ilmu agamanya.

Tanpa catatan waktu ini lumrah terjadi di Provinsi Kalsel. Masyarakat kita lebih menyukai tradisi tutur, ketimbang tulis.

Masjid Ath Thahiriyah diketahui sudah mengalami banyak perubahan. Bahkan, hampir tak menyisakan bentuk atau ciri khas dari sebuah masjid tua zaman dahulu.

Masjid itu kini dibangun dengan material utama berupa beton. Kalaupun ada kayu, paling tampak tiang utamanya di dalam masjid. Terdapat sejumlah balok kayu berukuran besar.

Penulis mengunjungi masjid tersebut pada pertengahan April 2022 lalu. Saat itu, penulis berbincang dengan Hamdan. Ia salah satu imam, dan pengurus masjid tersebut.

Ia membenarkan bahwa pembangunan Masjid Ath Thahiriyah dipelopori oleh Datuk Daha. Ia menuturkan, datuk tidak hanya menyebarkan ilmu agama. Tapi, juga mengelola masyarakat. "Mengelola kampung," ungkapnya.

Hamdan menuturkan, bangunan Masjid Ath Thahiriyah dahulu tidak sebesar yang tampak saat ini. Dahulu, bentuk masjid itu hampir menyerupai rumah persegi panjang.

Sepeninggal sang datuk, masjid tersebut lalu berkali-kali mengalami pemugaran. Ketika selesai, penamaan masjid itupun diambil dari nama Datuk Daha.

Namun, sisa bangunan dari masjid terdahulu yang masih dipertahankan dan bisa dilihat hingga kini yakni berupa tiang, mimbar, kemudian lis kayu berukir ayat Al-Qur’an. Lis kayu itu menghiasi sebagian dinding ruangan Masjid Ath Thahiriyah. "Saya rasa, itu saja yang tersisa," ungkapnya.

Lantas apakah cerita tentang masjid tersebut hanya sampai di situ? Tentu saja tidak. Hamdan menuturkan cerita lain. Masjid Ath Thahiriyah juga mempunyai sejarah yang masih banyak tak diketahui orang. Tentang adanya lubang peluru di mimbar masjid.

Secara resmi, Presiden RI Soekarno memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Tapi di Pulau Kalimantan, khususnya provinsi Kalsel, itu belum berlaku. Revolusi fisik setidaknya masih berlangsung hingga tahun 1949.

Dalam kurun waktu itu, menurut Hamdan, sebuah peristiwa menimpa Masjid Ath Thahiriyah. Entah pada waktu siang atau malam hari, secara tiba-tiba, berondongan peluru terdengar nyaring. Memekakkan telinga. Membuat kaget warga Pasungkan.

Belakangan, berondongan peluru itu rupanya diketahui menghantam bangunan masjid, dan tembus hingga ke mimbar.

Tidak diketahui siapa yang saat itu memberondongkan peluru. "Tapi berdasarkan cerita orang tua dahulu, saat itu ada pejuang yang melawan penjajah Belanda," ucapnya.

Apakah masjid itu pernah menjadi markas para pejuang? Misalnya, mengatur strategi perlawanan terhadap penjajah Belanda? Hamdan mengaku tidak mengetahui secara pasti. Setahunya, hanya sebatas cerita tentang berondongan peluru saja.

Penulis lantas diajak melihat mimbar yang dimaksud. Di mimbar tampak ada tiga lubang. Dua di sisi kiri mimbar. Dan satu lubang di sisi kanan.

Lubang-lubang itu sengaja tidak diapa-apakan, ditambal ataupun diperbaiki. "Agar masih ada tanda-tanda bukti sejarahnya," tutup Hamdan. 

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#Bangunan Bersejarah #hulu sungai selatan #Tahulah Pian #Masjid #Sejarah