Di Kalimantan Selatan ada teater tradisional yang sangat terkenal sebagai hiburan rakyat. Teater ini sarat dengan makna, budaya, sejarah, dan pembelajaran adab yang diwariskan leluhur Banjar. Nama teater ini adalah mamanda.
Asal muasalnya adalah kesenian badamuluk yang dibawa rombongan Abdoel Moeloek dari Malaka tahun 1897. Waktu itu datang rombongan bangsawan Malaka yang dipimpin oleh Encik Ibrahim dan istrinya Cik Hawa di Tanah Banjar. Kesenian inipun dipopulerkannya, dan disambut dengan suka oleh masyarakat Banjar.
Di Kalsel dulunya juga ada Komedi Indra Bangsawan. Komedi Indra Bangsawan melahirkan bentuk kesenian baru yang disebut sebagai Ba Abdoel Moeloek, atau lebih tenar dengan badamuluk. Singkat cerita, perpaduan teater ini juga menggabungkan dengan budaya Banjar. Lantas beradaptasi melahirkan teater dengan nama mamanda.
Di Kalsel, Firhansyah termasuk maestro mamanda. Pria dengan panggilan akrab Bang Ifir ini sekarang menjadi Wakil Ketua Dewan Kesenian Kalsel. Apa itu mamanda? Ifir menjelaskan bahwa arti kata mamanda adalah amanat kerajaan mangkubumi, atau sebuah panggilan di kerajaan yaitu Pamanda Mangkubumi.
Ifir telah menggeluti mamanda sejak sekolah SMA. Ditekuni di era tahun 1990-an hingga sekarang.
Pertama kali ikut belajar mamanda di Banjarmasin. Ketika itu ikut Sanggar Teater Tradisional Banjarmasin. “Mamanda adalah milik teater tradisional Kalsel yang menceritakan sejarah kerajaan,” jelasnya.
Di mamanda ini banyak hal yang bisa dipelajari. Utamanya mengenai pesan moral, adab, sampai belajar tata krama kepada siapapun. Terlebih lagi kepada orang yang lebih tua. “Dalam memainkan mamanda, segala sesuatu dalam kisahnya, kita harus sowan dulu atau meminta izin, selayaknya adab kita,” jelasnya.
Menurutnya, memainkan mamanda juga perlu belajar berimprovisasi terlebih dahulu. Melatih mental di hadapan orang banyak, tanpa naskah mampu berbicara. Jadi harus menguasai diri, dan punya wawasan yang luas akan budaya Banjar.
Mamanda ini bisa dikatakan teater komedi tanpa naskah. Pemerannya dituntut sangat komunikatif dengan penonton.
Ifir masih ingat pengalamannya dulu sebagai pemain mamanda. Ke pelosok-pelosok Kotabaru dengan berjalan kaki. “Bagi kami ini bukan masalah. Inilah seninya, dan kami selalu membawanya gembira,” ungkapnya. Paling disenanginya ketika penonton tertawa. Serasa terbayar semua kelelahan, karena berhasil membuat orang bahagia.
Dari kesenian mamanda pula, ia tak hanya pernah manggung di Kalsel saja. Tapi hingga ke Pulau Jawa. Bahkan, hampir semua kota di Jawa pernah menjadi tempat manggungnya.
Selain itu, juga ke Sumatera dengan difasilitasi oleh Kerukunan Urang Banjar yang tinggal di sana. Bahkan, luar biasanya lagi pernah main di Serawak Malaysia.
Kini, Ifir menahan kecewa karena semakin jarang kegiatan yang mau menampilkan mamanda sebagai hiburannya. Hanya di Banjarmasin yang masih terdengar ada pertunjukan mamanda.
“Sekarang tantangan kami adalah mempertahankannya di era modernisasi ini. Supaya tetap menjadi primadona bagi anak-anak muda, dan membuat mereka tertarik melanjutkannya,” tekadnya.
Ifir berharap para pemuda di Kalsel melestarikan. Setidaknya punya keinginan untuk tahu apa itu mamanda. “Intinya kalau kada (bukan) kita, siapa lagi yang akan menjaga budaya. Adat budaya tradisi akan menjadi tameng kita untuk hal-hal yang tidak baik,” ingatnya.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief