MARTAPURA - Tahulah Pian? Sebelum pindah ke Kompleks Ar Raudah, Abah Guru Sekumpul pernah tinggal di sebuah rumah sangat sederhana. Tak terlalu besar. Beratap rumbia, dan berdinding papan.
Rumah itu terletak sekitar 40 meter dari Makam ayahnda Guru Sekumpul Haji Abdul Ghani bin Abdul Manaf, atau tidak jauh dari Langgar Darul Aman di Kelurahan Keraton, Martapura Kota.
Rumah yang pernah ditinggali Abah Guru Sekumpul semasa kecil itu kini sudah mengalami pemugaran. Ada perluasan area sebelah kiri dan belakang rumah, serta penambahan ruangan untuk lantai atas.
Dulunya hanya terdapat dua kamar yang tak begitu luas. Sekarang dua kamar di lantai bawah itu tampak diperluas, serta penambahan tiga buah kamar di lantai dua. "Yang masih asli itu, dari bentuk rumahnya masih sama. Lalu ada tiang yang masih berdiri kokoh di ruang tengah,” ucap pemilik rumah, Badaruzaman (53).
Lantai kayu dan kayu di bagian atapnya juga masih asli. “Kayu-kayu yang asli dari rumah itu kami bungkus di dalam material beton. Kemudian kami juga menambah ruangan di lantai dua untuk tiga buah kamar," terangnya.
Badaruzaman sudah menempati rumah tersebut sejak tahun 1995. Mulai merenovasinya di tahun 2016. "Walaupun direnovasi, masih ada ruangan yang saat ini menjadi ruang tengah dan terpajang foto Abah Guru Sekumpul. Itu dulunya merupakan kamar Abah Guru Sekumpul semasa kecil yang ditempatinya untuk salat dan membaca kitab-kitab," cerita Aman—sapaan akrabnya.
Aman menceritakan bahwa zaman dulu kondisinya masih sangat susah. Tanah itu tidak dibeli Abah Guru Sekumpul, melainkan hanya meminjam lahan milik kakeknya.
Sebelum pindah ke Sekumpul, ujar Aman, abah guru juga pernah menempati rumah di Keraton yang saat ini dikenal dengan rumah almarhum Guru Supian. Aman memilih tetap mempertahankan material rumah tersebut, dan berharap keberkahannya.
"Karena di rumah ini pernah ditempati Abah Guru Sekumpul ketika membaca Al-Qur’an, salat, membaca kitab-kitab, dan sebagainya," sebutnya.
KH M Zaini bin Abdul Ghani atau lebih dikenal dengan Abah Guru Sekumpul merupakan seorang ulama dari Kalimantan Selatan yang karismatik dan dikagumi banyak orang. Lahir pada 11 Februari 1942 atau 27 Muharram 1361 H di Desa Tunggul Irang, Martapura, Kabupaten Banjar.
Abah Guru Sekumpul dikenal sebagai orang yang lembut, kasih sayang, sabar, dermawan, dan tekun.
Abah Guru Sekumpul adalah keturunan ke-8 dari ulama besar Banjar, Maulana Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah Al-Banjari. Kalau dirunut dari bawah mulai dari KH Muhammad Zaini Ghani bin Abdul Ghani bin Abdul Manaf bin Muhammad Samman bin Saad bin Abdullah Mufti bin Muhammad Khalid bin Khalifah Hasanuddin bin Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari (Datu Kalampayan).
Guru Ijai, panggilan lain Abah Guru Sekumpul, dilahirkan dari pasangan keluarga sederhana. Ayahnya bernama Abdul Ghani bin Abdul Manaf bin Muhammad Seman, dan ibunya bernama Hj Masliah binti H Mulia bin Muhyiddin.
Meski berlatar dari keluarga yang kekurangan, orang tuanya berhasil mendidik putranya hingga menjadi ulama terkenal. Kesuksesan Abah Guru Sekumpul juga tidak terlepas dari bimbingan para gurunya yang konon mencapai 200 orang. Sejak usia 5 tahun, Abah Guru Sekumpul telah belajar Al-Qur’an dengan Guru Hasan Pesayangan. Pada usia 6 tahun beliau mengenyam pendidikan di Madrasah Kampung Keraton.
Guru Ijai masuk ke Madrasah Diniyyah Pondok Pesantren Darussalam Martapura di usia 7 tahun. Pada usia yang masih belia ini beliau telah menghafal Al-Qur’an. Lalu pada 9 tahun mampu menghafal Tafsir Jalalain karya Jalal al-Din al-Suyuti dan Jalal al-Din al-Mahalli.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief