Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Tahulah Pian, Ada Kampung Tukang Gigi di Amuntai

M Akbar • Selasa, 20 Februari 2024 | 09:38 WIB
BERTEBARAN: Profesi tukang gigi banyak di Kecamatan Banjang Kabupaten HSU.
BERTEBARAN: Profesi tukang gigi banyak di Kecamatan Banjang Kabupaten HSU.

Kabupaten Hulu Sungai Utara tidak hanya dikenal sebagai kampung itik Alabio dan kerbau rawa. Tapi tahulah pian, kalau di Kota Amuntai ada kampung tukang gigi.

Lokasinya tidak jauh dari pusat pemerintahan. Jaraknya hanya sekitar 6-10 kilometer dari pusat kota berpenduduk 235.785 jiwa pada tahun 2023 ini.

Dari data tukang gigi yang masih aktif di Kecamatan Banjang, tukang gigi sederhana dikelola Haji Ibrahim, Akhmad Rifani, Abdul Hadi. Selanjutnya, tukang gigi express Hasan, tukang gigi Ulis, tukang gigi Fazri, tukang gigi Yani, tukang gigi Masrani, tukang gigi Hasbi, tukang gigi Express Udin dan Dani.

Masih ada lagi tukang gigi Hj Misnah, tukang gigi Tarsi, tukang gigi Iham, dan ahli gigi Abidin. Ternyata ada puluhan tukang gigi dalam kecamatan tersebut. Tak heran kecamatan ini digelari sebagai kampung tukang gigi.

Warga Desa Patarikan dari Kecamatan Banjang, Awir mengatakan profesi tukang gigi ini menjadi alternatif bagi sebagian orang untuk masalah gigi, termasuk dirinya. Ketimbang ke dokter gigi.

Alasannya memilih datang ke tukang gigi pinggir jalan karena lebih cepat dan murah. Meskipun sejatinya, tukang gigi ini hanya menawarkan jasa pembuatan gigi palsu.

Dari mana para tukang gigi itu bisa memiliki keahlian layaknya dokter gigi? Haji Ibrahim (50) mengaku membuka jasa ahli gigi sejak tahun 1980-an. Masih bertahan sampai sekarang. Dari lokasi yang berpindah-pindah, Haji Ibrahim akhirnya memiliki 'klinik' gigi depan rumahnya.

Ia menuturkan keahlian mereka sesama tukang gigi tidak didapatkan dari bangku sekolah. Sebagian autodidak atau belajar sendiri. Ada pula turun temurun dari orang tuanya. Tapi, ada juga yang ikut pelatihan mirip kursus.

Saat memulai usahanya, Ibrahim berkeliling perumahan menawarkan jasa tukang gigi dari rumah ke rumah. "Istilahnya door to door. Pada tahun 1981 itu, nggak ada yang buka tempat seperti saat ini," bandingnya.

Ibrahim berkeliling menawarkan pembuatan gigi palsu dengan membawa peralatan yang lumayan besar dan berat. Kurang lebih sebesar kotak mesin jahit.

Jika ada pelanggan yang mau, proses pembuatan gigi palsu dilakukan di rumah pelanggannya. “Alatnya dulu kita pikul kayak mesin jahit. Jarang dulu orang mau pasang gigi itu," tuturnya.

Pekerjaan yang digelutinya ini sangat dibutuhkan. Orang nggak mampu yang tadinya jelek menjadi cakep setelah pasang gigi palsu. “Tukang gigi seperti saya ini sangat membantu. Yang enggak bisa dipasang, bisa dipasang,” ujarnya.

Bahkan pelanggan memintanya agar terus melakukan profesi ini. Kalau bisa diturunkan. “Jadi bahasanya, profesi kami nggak merugikan masyarakat. Malah sangat membantu dan menguntungkan warga," ujarnya.

Ia memasang tarif bervariasi untuk pembuatan gigi palsu. Tergantung dari bahan dan kualitas gigi yang diinginkan pelanggan.

Paling terjangkau Rp50 ribuan. Pasaran berikutnya Rp100 ribuan, Rp200 ribuan, dan paling bagus Rp500 ribuan. “Saya juga berikan jaminan atau semacam garansi ke pelanggan gigi kami" katanya.

Dari penghasilannya sebagai tukang gigi, Ibrahim mampu mencukupi kebutuhan keluarga, dan berangkat ke tanah suci untuk berhaji.

Sementara tukang gigi lainnya, A Rifani (25) memiliki keahlian dari turun temurun. “Jadi saya sebagai penerus," terangnya.

Pemesanan pembuatan gigi bisa lewat telepon atau Whatsapp. “Anda bisa berkonsultasi ke tempat kami, atau kami yang berkunjung ke tempat Anda,” ucapnya singkat.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#Tahulah Pian #gigi #Hulu Sungai Utara