Sama halnya di Sulawesi Selatan, siri' merupakan falsafah masyarakat Bugis di Tanah Bumbu. Siri' dapat diartikan sebagai rasa malu, harga diri, dan martabat. Falsafah ini mengatur interaksi sosial dan budaya masyarakat Bugis.
Dosen sejarah FKIP Universitas Lambung Mangkurat, Mansyur menyebut siri' dapat menjadi motivasi seseorang untuk bekerja keras dan berusaha sebaik mungkin. Hal ini karena seseorang yang memiliki siri' akan merasa malu jika tidak bisa memenuhi harapan orang lain.
Namun, siri' juga dapat menjadi sumber konflik dalam masyarakat Bugis. Sebab, siri' dapat mendorong seseorang untuk membela harga dirinya. Bahkan dengan kekerasan. Seperti pelanggar adat, terutama dalam soal-soal hubungan perkawinan. “Tapi, bisa juga karena alasan sepele. Karena ini dianggap menghilangkan harga diri, martabat, dan identitas sosialnya,” ujar Mansyur.
Argumen itu dikutipnya dari disertasi Setia Lenggono dari Institut Pertanian Bogor (IPB) pada 2011. Kemudian buku James Brooke dan George Rodney Mundy tahun 1848 berjudul Narrative of Events in Borneo and Celebes, Down to the Occupation of Labuan.
Ia mengatakan, orang Bugis yang mati siri' akan melakukan jallo atau mengamuk sampai mati. Jallo ini untuk menegakkan kembali martabatnya. Jika ia mati saat jallo, ia disebut jantan yang memiliki martabat.
Dalam kesusastraan paseng, terdapat sejumlah ungkapan terkait siri'. Seperti ungkapan, untuk siri' itu saja lah seseorang Bugis tinggal di dunia (siri'mi rionroang ri lino). Di sini, siri' adalah identitas sosial dan martabat seorang Bugis. Tanpa martabat, hidup tidak ada artinya.
Kemudian mati dalam siri' (mate ri siri'na). Artinya, mati untuk menegakkan martabat diri yang dianggap suatu hal yang terpuji dan terhormat. Berikutnya, mati siri' (mate siri'). Artinya orang yang sudah hilang martabat diri, adalah seperti bangkai hidup
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief