TANJUNG – Terdapat makam ulama besar di Desa Habau, Kecamatan Benua Lawas, Tabalong. Dikenal dengan nama KH Muhammad Arif bin Hamim.
Makam itu telah ditetapkan sebagai cagar budaya berdasarkan Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Perlindungan Cagar Budaya.
Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Tabalong mencanangkannya menjadi salah satu situs bersejarah, sekaligus lokasi objek wisata religius.
Namun, tidak banyak orang tahu kisah kehidupan sang ulama yang makamnya kini telah dipugar dengan luas area 10x8 meter tersebut.
Budayawan Tabalong, Masdulhak Abdi mengatakan KH Muhammas Arif bin Hamim adalah ulama yang masyhur karena hidupnya sederhana.
Meski begitu, berkat keilmuannya banyak sekali yang menuntut ilmu kepadanya, atau menjadi muridnya.
Datuk atau panggilan sang kiai itu selalu tidur hanya beralaskan tikar. Padahal, ia mampu untuk membelinya.
Itu semua demi menjaga ketawaduaannya.
"Datuk tidak tidur memakai kelambu, bantal, kasur, dan tilam. Hanya memakai tikar. Beliau tidak ingin bermegah-megahan di alam dunia," katanya.
Selama masa hidupnya, datuk hanya tinggal di langgar sambil mengajarkan ilmu agama kepada murid-murid.
"Berdasarkan penuturan atau cerita dari para murid beliau, Datuk KH Muhammad Arif banyak mendidik dan memiliki karamah-karamah yang diberikan Allah," cetusnya.
Bahkan, karamah tersebut sering kali disampaikan dalam manakib ketika peringatan haul kematiannya.
Tepatnya 29 Rabiul Awal tahun 1933 hijriah, KH Muhammad Arif bin Hamim berpulang.
"Beliau meninggalkan dua anak, laki-laki dan perempuan yang bernama Mayasin dan Zahwa," jelasnya.
Editor : Eddy Hardiyanto
Editor : Arief