Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Tahulah Pian, Wafaq Bantu Urang Banjar Jadi Sakti

M Idris Jian Sidik • Kamis, 18 Januari 2024 | 11:35 WIB
TAHULAH PIAN: Inilah salah satu wafaq Pangeran Antasari yang digunakan dalam perang Banjar.
TAHULAH PIAN: Inilah salah satu wafaq Pangeran Antasari yang digunakan dalam perang Banjar.

BANJARMASIN – Dalam kepercayaan masyarakat Banjar, khususnya di wilayah pahuluan, cukup kental dengan ilmu kedigdayaan. Ilmu kesaktian.

Supaya tubuh pemilik kesaktian bisa taguh (kebal), disegani orang, dan hal lainnya.

Cara memperolehnya bervariasi. Mulai bauntalan, barajah, bamandi-mandi (mandi), mangaji, atau balampah (bertapa).

Salah satu di antara fenomena itu adalah barajah atau istilah lainnya bawafaq.

Hingga sekarang, pada wilayah pahuluan diyakini banyak Tuan Guru yang dipercaya bisa marajah atau membuat wafaq.

Rajah atau wafaq merupakan sebuah tulisan. Kalau dalam seni Islam mirip lukisan atau kaligrafi.
Teknik penulisannya dengan huruf, angka, dan simbol-simbol. Tetapi tidak sembarangan, karena sarat makna.

Kemudian mengandung sir atau rahasia. Maknanya hanya bisa dipahami orang-orang tertentu.
Dosen Sejarah ULM Banjarmasin, Mansyur mengungkapkan bahwa hal ini ternyata bukan hal baru atau kekinian. Dalam catatan sejarah pun diwarnai dengan kemunculan wafaq.

Hal yang paling fenomenal adalah wafaq yang dipakai Pangeran Antasari dalam Perang Banjar (1859-1863).

“Dari tulisan Willem Adriaan van Rees, De Bandjermasinsche Krijg van 1859-1863 terbit tahun 1865, dan beberapa sumber lainnya terdapat gambar djimat of talisman (wafaq) Pangeran Antasari dalam Perang Banjar yang terdiri dari satu buah wafaq,” ungkap Mansyur.

Menurut Mujiburrahman (2013), sebut Mansyur, satu hal yang amat menonjol di masyarakat Banjar pada Abad ke-19 adalah gerakan keagamaan yang disebut Beratib Beamal.

Ini telah menjadi organisasi perlawanan yang militan melawan kekuasaan Belanda.

Tercatat beberapa kasus penyerangan terhadap Belanda di Amuntai, Kelua, dan Kandangan yang dilakukan oleh para pengikut Beratib Beamal.

Mereka menyerang dengan penuh keberanian, karena yakin apa yang dilakukannya adalah jihad fi sabilillah.

“Dilaporkan juga bahwa mereka membawa jimat-jimat,” cerita Mansyur.

Mengenai wafaq, Mansyur mengungkapkan bahwa makin bermakna karena memiliki bentuk kaligrafi, geometrik, dan pengulangan yang menjadi ciri khas seni Islam cukup nampak.

Bila dianalisis ternyata kekhasan seni Islam pada azimat berwafaq ini tidak sepenuhnya meniru dari kekhasan seni Islam.

“Ini terbukti adanya simbol binatang realistik, tokoh pewayangan senjata, bahkan menciptakan simbol-simbol abstrak yang unik,” katanya.

Ini membuktikan apapun yang datang dari luar ke Indonesia, akan selalu mengalami proses akulturasi. Akulturasi itu akan menimbulkan suatu bentuk seni budaya yang berakar pada ciri-ciri kebudayaan asing dan kebudayaan sendiri, atau disebut hibridisasi.

Jimat berwafaq dalam tradisi masyarakat Banjar dibuat menggunakan angka-angka, lambang-lambang rajah, dan ayat-ayat Al-Qur’an kebanyakan berasal dari Islam.

“Jadi tak setiap jimat itu berwafaq,” bandingnya.

Setiap barang yang berwafaq, maka kekuatannya akan bertambah.

Mewafaq adalah merupakan ilmu tersendiri.

“Jimat-jimat lain yang berasal dari jenis tumbuh-tumbuhan, binatang, tanah, logam seperti wasi kuning dan sebagainya,” jelas Mansyur.

Kumpulan jimat yang serupa ini yang dipakai untuk melindungi diri dari bencana, membuat seseorang kebal, ditakuti orang.

Ada juga jimat besar selilit pinggang yang disebut babatsal.

Jika ditinjau secara ilmiah, azimat berwafaq ini menampakkan ciri lokal khas Banjarmasin.

Secara tidak langsung sekaligus juga masih memiliki citra spiritualitas seni Islam yang kuat pula.
Ia juga mengatakan bahwa azimat berwafaq ini memiliki ungkapan rupa berupa simbol-simbol mulai dari bentuk, warna, material dan huruf-huruf magis, di mana hanya orang-orang tertentu saja yang mengerti.

Dalam sistem religi di daerah Kalimantan Selatan, selain wafaq ada beberapa jenis benda yang dianggap memiliki kekuatan atau sakti.

“Bisa memberikan kebaikan, atau kebalikannya bagi si pemakai,” ingatnya.

Ada juga kepercayaan yang bersifat kajian atau ilmu kanuragan dalam berbagai hal, baik itu taguh (kebal), ilmu pengasih (pemikat) atau sebagainya yang dianggap hal istimewa oleh Urang Banjar.
Semua kepercayaan ini tidak semata-mata timbul dari adat Banjar saja.

Namun, juga ada induksi atau masukan dari lain misalnya agama Islam. Contohnya, wafaq-wafaq atau jimat-jimat bertulisan ayat suci Al-Qur’an dan sebagainya yang memang semuanya itu berasal dari Islam.

Ini lazim disebut azimat berwafaq atau disebut wafaq saja.

Editor : Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#Budaya #Tahulah Pian #sakti #kebal