Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Tahulah Pian, Ada Pemuda Banjarbaru Disusupi Pemikiran Berhaluan Komunis

M Fadlan Zakiri • Senin, 15 Januari 2024 | 10:57 WIB
TAHULAH PIAN: Kondisi Mess L, tempat menginap pekerja proyek besi baja bantuan Uni Soviet (Rusia) di Kota Banjarbaru sebelum direhab seperti sekarang.
TAHULAH PIAN: Kondisi Mess L, tempat menginap pekerja proyek besi baja bantuan Uni Soviet (Rusia) di Kota Banjarbaru sebelum direhab seperti sekarang.

Banjarbaru hanya sebuah Kota Kecamatan era tahun 1964-an yang sarat dengan dinamika, sebelum jadi kota metropolitan sementereng saat ini. Pada era itu, sudah muncul tuntutan masyarakat Kewedanaan Berangas dan Kecamatan Banjarbaru. Daerahnya bisa naik status menjadi Daswati II dan Kotapraja tingkat II Banjarbaru. Dengan perkembangan yang dinamis inilah, pemuda Banjarbaru disusupi pemikiran berhaluan komunis (pro) maupun anti komunis.

Sejarawan Kalsel, Mansyur menceritakan aksi pemuda pro komunis terjadi sebelum peristiwa nasional G30S/PKI. Tepatnya ketika muncul Resolusi Pemuda Rakyat Banjarbaru Nomor R/65/2 yang dikeluarkan pada tanggal 25 Juli 1965. Antara lain berisi menuntut pembubaran Partai Murba (Musyawarah Rakyat Banyak) yang didirikan pada 7 November 1948 oleh Tan Malaka, Chaerul Saleh, Sukarni, dan Adam Malik. Selain itu, Nasakomisasi untuk Aparatur Negara. Tidak hanya itu, juga muncul tuntutan men-nasakomkan Wakil Gubernur, Wakil Ketua DPRD-GR Tk I dan TK II, dan anggota-anggota BPH Tk II se-Kalimantan Selatan.

Pada Pemilihan Umum tahun 1965, Pemuda Banjarbaru juga mendukung Musyawarah Besar Tani untuk melancarkan pelaksanaan Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan Undang-undang Pokok Bagi Hasil (UUPHB).

Kampung Sumberdadi, Mentaos, dan Setan Kota

Saat itu, masih ada sentra-sentra yang dicurigai disusupi oleh oknum PKI. Terutama di daerah Banjarbaru sebagai tempat konsolidasi mereka. Hal ini dimungkinkan karena di Banjarbaru terpusat proyek-proyek besar bantuan Rusia. Proyek Besi Baja Kalimantan, Proyek Jalan Kalimantan, dan Landasan Udara Ulin.

Mereka ditempatkan di satu tempat bernama Mess L. Sekarang sudah digunakan sebagai sentra produk UMKM di Kota Banjarbaru.

Para karyawan di kedua proyek tadi, kata Mansyur, sangat aktif dan mengikuti latihan kemiliteran dalam Kesatuan Pertahanan Sipil dengan pakaian dan perlengkapan yang lebih baik dari anggota Pertahanan Sipil lainnya. Hal inilah yang diduga jadi salah satu penyebab meluasnya paham komunis di kalangan pemuda di wilayah Banjarbaru.

Bahkan sampai akhir November 1965, di Kampung Mentaos belakang asrama APDN, dan Kampung Sumberdadi yang sekarang sungai belakang Pasar Banjarbaru, masih terdengar yel-yel dari orang-orang PKI. Seperti ‘Hidup Pancasial, Hidup Pancasial!’, diiringi pula oleh lagu Genjer-Genjer, dan lagu Darah Rakyat antara lain berbunyi ‘Darah rakyat masih berjalan. Menderita sakit dan miskin. Akan tiba masa pembalasan. Rakyat yang menjadi hakim’. “Kondisi ini disinyalir karena lokasi Kampung Sumberdadi sangat dekat dengan Asrama Akademi Pemerintahan Dalam Negeri, yang menurut mereka (orang-orang PKI itu, red) dicetak kader-kader birokrat borjuis yang dikenal mereka dengan istilah setan-kota,” jelas Mansyur.

Karena itulah, para mahasiswa APDN yang tinggal di asrama menggabungkan diri pada Posko Piket G.P. Anshor di rumah Said Hasyim BA. Begitu juga dengan mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat dipimpin Mulyadi Yusuf (PMII) dan Ismet Ahmad (GMNI) bersama-sama dengan mahasiswa APDN tergabung dalam KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia).

Pasalnya, pada era itu, di Banjarbaru gerakan pemuda yang sangat aktif ialah Gerakan Pemuda Anshor (G.P. Anshor) Wilayah Kalimantan Selatan dengan Ketuanya Said Hasyim BA.

Koordinasi pengamanan daerah Banjarbaru-Martapura telah dibina dengan efektif antara G.P. Anshor Wilayah Kalimantan Selatan dengan Resimen Brigade Mobil (Brimob) yang dipimpin Letkol Aruman Wirananggapati. “Malah satuan Brimob meminjamkan beberapa pucuk senapan kepada G.P. Anshor Wilayah Kalimantan Selatan di Banjarbaru,” ujar Mansyur.

Namun peninggalan atau dokumen mengenai hal ini, kata Mansyur, sudah sangat sulit diperoleh. Bahkan bisa dikatakan tidak ada. “Karena ketika terjadi pergolakan dengan munculnya gerakan anti komunis, semua hal yang berbau paham tersebut wajib dimusnahkan dan dilarang beredar. Sehingga sangat sulit mencari jejak-jejak sejarahnya,” pungkas Mansyur.

Editor : Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#komunis #banjarbaru #Tahulah Pian #Sejarah Banua