Bila di Pulau Jawa dikenal dengan sebutan Jamas Pusaka, di Kalsel atau Kalimantan pada umumnya biasa disebut Merabun Wasi. Ini adalah sebuah cara atau bentuk masyarakat dalam menghargai atau merawat sebuah benda bernilai pusaka. Apalagi di balik sebuah benda pusaka, ada banyak filosofi yang tersimpan.
Tahulah pian, tradisi marabun wasi identik dengan pembersihan hingga mengasapi atau mengharumi sebuah benda atau senjata pusaka. Baik itu parang, keris, tombak, dan sebagainya.
Pemerhati tradisi serta budaya di Banjarmasin, Syarifudin Nur mengatakan tradisi ini sudah ada sejak ratusan tahun lamanya. Di Banjarmasin, tradisi ini masih lestari hingga kini.
Di kalangan masyarakat Kalsel, pusaka yang dirabun sebagian besar sudah berumur. "Usianya di atas 10 atau 20 tahun, atau peninggalan orang dahulu," ucapnya, Kamis (11/1) siang.
Namun, bukan berarti acuan itu sepenuhnya berlaku. Marabun wasi juga bisa dilakukan untuk benda pusaka yang usianya baru. Dengan catatan, pusaka yang dibuat memang secara khusus. Contoh, dari segi pilihan bahan yang ditempa untuk menjadi sebuah pusaka. "Atau, si pemilik memang memiliki rasa penghargaan yang tinggi terhadap pusaka," jelas lelaki yang akrab disapa Abah Sultan itu.
Syarifudin menjelaskan marabun wasi sebenarnya satu rangkaian dengan kegiatan lain. Rangkaian itu biasanya diawali dengan membersihkan pusaka dari adanya karat atau kotoran yang menempel. "Biasanya, pusaka itu dibersihkan memakai bahan yang bisa mengangkat atau menghilangkan karat," tuturnya.
Selanjutnya, pusaka juga 'dimandikan'. Biasanya, diguyur dengan air yang sudah dicampur dengan bunga. Kemudian dikeringkan. "Nah, setelah dikeringkan, baru pusaka itu dirabun atau diasapi. Biasanya dengan asap kemenyan," ucapnya.
Atau bisa juga diolesi dengan minyak tertentu. Contoh, memakai minyak cendana atau misik. "Karena memang, sarana media untuk mengharumkan pusaka dengan cara itu," tekannya.
Lalu, apakah ada hari-hari tertentu untuk merabun wasi? Menurut Syarifudin, secara umum tak ada waktu tertentu. Artinya, marabun wasi bisa dilakukan kapanpun. "Tapi biasanya, dilakukan pada malam yang dianggap sakral. Malam Jumat, malam Kamis, atau malam Senin," ungkapnya.
Namun di sejumlah daerah, biasanya juga dilakukan di waktu-waktu tertentu. Bahkan ada yang dilakukan sekali dalam setahun. "Misalnya pada tanggal 1 di bulan Muharam. Ada pula di bulan Maulid Nabi," ucapnya.
"Di Banjarmasin, salah satunya di Kampung Kuin, biasa dilaksanakan di bulan Maulid Nabi," tambahnya.
Dalam tradisi marabun wasi, biasanya juga diisi dengan kegiatan selamatan alias kenduri. Umumnya, kegiatan dilaksanakan melalui doa bersama. Di situ, sejumlah penganan tradisional pun disajikan. Kemudian disantap bersama-sama. "Merawat pusaka melalui marabun wasi lebih kepada bentuk terima kasih, juga penghargaan terhadap jasa orang tua di masa lalu. Termasuk penghormatan kepada si pembuat pusaka," tutupnya.
Editor : Eddy Hardiyanto
Editor : Arief