Masyarakat belum banyak yang tahu jika di Banjarmasin pernah ada monumen Perang Banjar. Bangunannya mirip Monumen Waterlooplein di Batavia dan Michielsplein di Padang. Monumen ini terbuat dari besi tuang, dan bergaya gothic.
Monumen dari logam itu lantainya berlapis marmer, dan dindingnya dipenuhi relief Eropa. Bagian teratas monumen meruncing, terdiri dari beberapa tingkat. “Di Banjarmasin pernah ada monumen Perang Banjar mirip seperti Monumen Waterlooplein di Batavia dan Michielsplein di Padang,” kata sejarawan Mansyur, kemarin (10/1).
Monumen ini didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda untuk mengenang para tentaranya yang gugur dalam Perang Banjar tahun 1859-1863. Menurut versi Pemerintah Hindia Belanda, Perang Banjar hanya berlangsung empat tahun yakni 1859-1963.
Pendirian monumen ini tidak lepas dari usulan pemimpin ekspedisi Perang Banjar, Letnan TM Verspijck. Usulan tersebut didasarkan pada catatannya tanggal 5 Februari 1860 di Amuntai, dan tanggal 2 Maret 1860 di Banjarmasin.
Pada masa awal pembangunan monumen ini, sempat terjadi silang pendapat. Apakah tugu peringatan yang sudah tiba dari Belanda itu diletakkan di Banjarmasin, atau di Martapura.
Alasannya, Martapura adalah tempat terhormat di mata para bangsawan dan masyarakat Banjar. Selain itu, di wilayah ini terletak Keraton sebagai tanda otoritas Sultan Banjar.
Kalau monumen ini dibangun di Martapura akan menjadi tanda bahwa Kesultanan Banjar telah hancur, dan kewenangannya berpindah ke tangan Pemerintah Hindia Belanda. Martapura juga menjadi operasi pertama Perang Banjar dimulai.
Sedangkan jika memilih Banjarmasin, karena kawasan tersebut akan terus dikunjungi banyak orang. Artinya orang yang bertandang ke Banjarmasin akan terus melihat monumen tersebut setiap hari. “Walaupun sudah tiada, simbol dari tugu akan tetap hadir dalam setiap benak orang yang melihatnya,” jelasnya.
Monumen tersebut diresmikan pada 19 Februari 1867, di alun-alun, depan kediaman Residen di Banjarmasin dan pejabat sipil setempat. Namun, monumen itu sekarang sudah tidak ada lagi, karena sudah dihancurkan. “Monumen ini diperkirakan dihancurkan pada masa invasi Jepang,” tutup Mansyur.
Editor : Eddy Hardiyanto
Editor : Arief