Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Tahulah Pian, Bela Diri Pamanca Ada di Pesisir Kotabaru

Jumain Radar Banjarmasin • Rabu, 10 Januari 2024 | 15:15 WIB
TAHULAH PIAN: Pamanca digelar orang Bugis di Desa Teluk Tamiang, Kecamatan Pulau Laut Tanjung Selayar, Kotabaru.
TAHULAH PIAN: Pamanca digelar orang Bugis di Desa Teluk Tamiang, Kecamatan Pulau Laut Tanjung Selayar, Kotabaru.

Pamanca ada di pesisir Kotabaru. Lokasinya di Desa Teluk Tamiang, Kecamatan Tanjung Selayar.
Budaya ini bisa disaksikan saat Mappanretasi di Pantai Teluk Tamiang. Saat itu berlangsung sebuah atraksi. Pemain laki-laki dengan diiringi gendang dan gong mulai bersiap. Di sisi lain, ada orang tua yang merupakan guru Pamanca membakar dupa di tengah tempat pertunjukan. Di situ juga terlihat sepasang pedang bersilang yang sudah dibacakan doa. Isinya sebuah niat untuk melaksanakan hajat budaya turunan. Menunaikan kewajiban dari leluhurnya.

Gendang pun berbunyi disertai suara gongnya. Di situ juga ada dua pemain atau lebih. Satu lawan satu, atau satu lawan beberapa orang.

Jalan permainan diawali dengan pukulan gendang dan gong. Ketika suasana mulai hangat, masuklah seorang pemain ke gelanggang. Muncul lagi pemain lain dari arah yang berlawanan.
Pemain pertama memulai permainan dengan istilah angngalle bunga. Artinya mengambil atau memetik bunga. Ini merupakan gerakan inti manca, yang berisikan teknik-teknik pukulan dan tangkisan.

Salah satu warga, Berahing menyebut Pamanca ini adalah silatnya orang Sulawesi Selatan. Sudah ada sejak abad 16. Waktu di masa kerajaan, Pamanca diperuntukkan bagi keluarga raja dan kaum bangsawan. Seperti keturunan karaeng dari Makassar Arung dari Bugis. Filosofinya dalam Pamanca adalah bersifat jujur, berani, menjunjung tinggi keadilan dan kebenaran, berjiwa satria, serta bersikap rendah hati.

Di Teluk Tamiang, warganya keturunan dari perantau Sulawesi semua. Selain merantau, juga membawa budayanya, termasuk Pamanca. “Zaman penjajahan dulu banyak rusuh besar-besaran. Makanya nenek kami merantau, dan sampai ke sini membawa budayanya,” ungkap Berahing.
Pamanca memang untuk bela diri. Namun juga sangat sakral. Bagi keturunan kerajaan, wajib dipelajari. Sampai sekarang sudah dijadikan budaya. Demi pelestarian Pamanca, kini diajarkan rutin untuk anak-anak sekolah di Teluk Tamiang.

Menurut kepercayaan masyarakat di Desa Teluk Tamiang, Pamanca tidak bisa ditinggalkan. Harus dipakai kalau ada acara besar seperti perkawinan, naik ayunan, dan acara adat lainnya. “Ada kepercayaan yang masih dianggap sakral. Salah satunya keturunan saya kalau ada acara pasti menampilkan budaya ini,” jelasnya.

Apa akibatnya bila tidak melaksanakan? Berahing percaya kalau tidak dilaksakanan nanti ada bala yang datang. Seperti sakit, bahkan ada yang gila.

Editor : Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#Kotabaru #Budaya #Tahulah Pian #bela diri #Bugis #tradisi