Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Tahulah Pian, Tradisi Mappasili untuk Tujuh Bulanan di Tanah Bumbu

Zulqarnain Radar Banjarmasin • Selasa, 9 Januari 2024 | 10:14 WIB

TAHULAH PIAN: Ilustrasi seorang perempuan mengikuti proses Mappasili di masa kehamilan tujuh bulan bagi warga Bugis. Acara ini juga kerap dilaksanakan di Tanah Bumbu.
TAHULAH PIAN: Ilustrasi seorang perempuan mengikuti proses Mappasili di masa kehamilan tujuh bulan bagi warga Bugis. Acara ini juga kerap dilaksanakan di Tanah Bumbu.
Mappasili adalah tradisi tujuh bulanan lahiran yang dilakukan oleh masyarakat Bugis. Tradisi ini mirip dengan Bamandi Manujuh Bulan yang dilakukan masyarakat Banjar. Di Kabupaten Tanah Bumbu yang sebagian warganya masyarakat Bugis, juga turut melestarikan Mappasili.

Warga Batulicin, Hapsa menceritakan Mappasili diawali dengan calon ibu melewati tujuh anak tangga bambu. Tradisi ini bertujuan menolak bala dan mengusir roh jahat. Sehingga bayi yang lahir diharapkan terhindar dari segala kesialan. “Ini melambangkan rezeki yang akan terus bertambah bagi bayi,” ujarnya, Senin (8/1).

Sandro sebagai pemimpin upacara akan memutari calon ibu sambil membakar dupa di atas kepalanya. Ini dipercaya mampu mengusir roh jahat agar terbang bersama asap dupa.
Perempuan berusia 23 tahun itu menuturkan, upacara dilanjutkan dengan memercikkan air dengan daun kepada tubuh calon ibu. Mulai dari kepala, bahu, hingga perut. Setiap percikan itu memiliki makna. Percikan air pada bahu melambangkan tanggung jawab yang akan dimiliki oleh sang anak. Sedangkan percikan air dari kepala hingga perut melambangkan kemudahan dalam persalinan, dan harapan kelancaran hidup sang anak. “Lancar seperti air mengalir,” ujarnya.

Setelah itu, kata dia, dilanjutkan upacara Makarawa Bubua atau mengelus perut. Upacara ini dihiasi berbagai macam makanan. Di situ, sandro akan mengelus perut calon ibu sambil membaca doa. Di beberapa area tubuhnya, ditaburi daun sirih dan beras. “Ini agar ibu tidak stres, anak tidak salah melangkah, dan tidak kekurangan pangan,” ucapnya.

Mappasili ditutup dengan sandro yang menyuapkan makanan kepada calon ayah dan ibu, dan kedua orang tua pasangan. “Sandro menyuapkan tujuh macam kue, dan pencok dari tujuh macam bebuahan,” kisahnya.

Editor : Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#Budaya #Tahulah Pian #Tanah Bumbu #tradisi