Warga Batulicin, Hapsa menceritakan Mappasili diawali dengan calon ibu melewati tujuh anak tangga bambu. Tradisi ini bertujuan menolak bala dan mengusir roh jahat. Sehingga bayi yang lahir diharapkan terhindar dari segala kesialan. “Ini melambangkan rezeki yang akan terus bertambah bagi bayi,” ujarnya, Senin (8/1).
Sandro sebagai pemimpin upacara akan memutari calon ibu sambil membakar dupa di atas kepalanya. Ini dipercaya mampu mengusir roh jahat agar terbang bersama asap dupa.
Perempuan berusia 23 tahun itu menuturkan, upacara dilanjutkan dengan memercikkan air dengan daun kepada tubuh calon ibu. Mulai dari kepala, bahu, hingga perut. Setiap percikan itu memiliki makna. Percikan air pada bahu melambangkan tanggung jawab yang akan dimiliki oleh sang anak. Sedangkan percikan air dari kepala hingga perut melambangkan kemudahan dalam persalinan, dan harapan kelancaran hidup sang anak. “Lancar seperti air mengalir,” ujarnya.
Setelah itu, kata dia, dilanjutkan upacara Makarawa Bubua atau mengelus perut. Upacara ini dihiasi berbagai macam makanan. Di situ, sandro akan mengelus perut calon ibu sambil membaca doa. Di beberapa area tubuhnya, ditaburi daun sirih dan beras. “Ini agar ibu tidak stres, anak tidak salah melangkah, dan tidak kekurangan pangan,” ucapnya.
Mappasili ditutup dengan sandro yang menyuapkan makanan kepada calon ayah dan ibu, dan kedua orang tua pasangan. “Sandro menyuapkan tujuh macam kue, dan pencok dari tujuh macam bebuahan,” kisahnya.
Editor : Eddy Hardiyanto
Editor : Arief