Hampir setiap suku di Indonesia memiliki ritual masing-masing bagi calon pengantin jelang pernikahan. Salah satunya adalah ritual menyucikan diri sebelum memasuki kehidupan baru sebagai sepasang suami-istri. Demi mengharapkan kebaikan setelah pernikahan, hingga memohon restu dari yang kuasa agar pasangan tersebut mendapatkan kebahagiaan dan keberkahan.
Bila di Jawa kita mengenal istilah siraman. Urang Banjar yang tinggal di Kalimantan Selatan, Tengah, dan Timur punya upacara bamandi-mandi yang bernama badudus. Keduanya memiliki fungsi yang sama. Hanya saja badudus biasa digunakan untuk keluarga kerajaan atau keturunan bangsawan yang memiliki hubungan dengan keluarga candi atau tutus candi.
Dosen program studi Sejarah FKIP ULM, Mansyur mengatakan ritual badudus dilakukan untuk membersihkan jiwa raga calon pengantin menjelang pernikahan. Upacara adat ini juga bertujuan untuk membentengi diri dari berbagai gangguan seperti calon pengantin terserang penyakit atau tergoyahnya kehidupan rumah tangga setelah resmi menikah. “Pelaksanaan badudus biasanya dilakukan tiga hari sebelum pernikahan. Dalam upacara ini, rambut-rambut halus seperti alis, sekitar dagu, pelipis, akan dicukur. Kemudian dirias sederhana,” ujarnya.
Dalam ritual badudus akan disediakan piduduk atau mahar yang terdiri dari seekor ayam, lima cupak beras ketan, tiga telur ayam, kelapa muda, sebatang lilin, uang perak, cermin, pisau, jarum, benang, dan jarum. Biasanya juga dilengkapi dengan 41 jenis kue, bubur merah-putih, kopi, mayang pinang, minyak likat baboreh, dan kasai kuning atau bedak yang dicampur air dan kunyit.
Perlengkapan lain yang wajib disiapkan adalah tempat duduk untuk bersimpuh bertingkat dua dan dilapisi kain satin kuning. Mangkuk kaca untuk wadah keramas. Gelas dandang untuk menyimpan air bunga. Teko untuk air yang digunakan saat berdoa. Tempayan untuk menampung air mayang, dan sebuah tempayan lagi untuk menampung air bersih.
Mansyur menjelaskan ketika prosesi badudus dimulai, calon pengantin akan duduk dengan posisi saling membelakangi. Calon pengantin akan dimandikan dari air yang sudah dimasukkan mayang pinang. Setelah itu, pada air terakhir yang akan disiram, akan ditambahkan air kelapa muda.
“Kedua mempelai pun dapat mandi dan kembali lagi untuk diberikan batutungkal atau coretan di kaki dari cacak burung dengan campuran kapur dan kunyit agar terhindar dari gangguan roh,” katanya.
Selanjutnya, calon pengantin akan mengelilingi lilin dan cermin sebanyak tiga kali, kemudian dilumuri dengan kasai kuning agar tubuh terlihat berseri.
Editor : Eddy Hardiyanto
Editor : Arief