Anak zaman sekarang banyak yang tak tahu. Di Banjarmasin, memililki pekuburan Nasrani belasan tahun lalu. Sekarang berubah menjadi Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kamboja di Jalan Anang Adenansi Banjarmasin Tengah.
Area ramah anak ini dulunya tempat yang terbilang angker. Apalagi pohon beringin besar dulunya tumbuh sumbur di atas pekuburan. “Nama Taman Kamboja ini diambil dari nama pohon/bunga Kamboja. Tanaman yang melekat dengan kawasan pemakaman,” kata dosen program studi sejarah, FKIP ULM, Mansyur.
Kompleks pekuburan ini pada zaman Hindia Belanda bernama Nieuw Kerkhof, atau Pekuburan Baru. “Banyak menyimpan sejarah kawasan itu. Sejak zaman Hindia Belanda hingga era penjajahan Jepang,” ungkapnya.
Sebelum menjadi kompleks pekuburan Nasrani, kawasan ini dijadikan pekuburan untuk militer Belanda. “Sebelumnya di Benteng Tatas (Masjid Sabilal Muhtadin). Namun dipindah ke sana untuk perluasan,” terangnya.
Seiring masuknya Jepang, kawasan pekuburan ini tak lagi khusus untuk militer Belanda. Di masa penjajahan Jepang pekuburan sempat menjadi area terlarang. “Namun, seiring waktu tak lagi angker dan terlarang. Pendatang akhirnya banyak bermakam di sana. Termasuk warga pribumi,” jelasnya.
Dalam perkembangannya, warga Kristen dan Katolik semakin ramai dimakamkan di Pekuburan Kamboja. Ditambah pada tahun 1950, delapan gereja di Banjarmasin membentuk Perkumpulan Gereja-Gereja di Banjarmasin. Terdiri dari kalangan penganut Kristen Protestan dan Katolik, sebagai pengelola (bezitter) Pekuburan Kamboja.
Pada 1985, para petinggi gereja sepakat membentuk badan hukum bernama Yayasan Sejahtera Abadi. Ketika masa ini, gereja yang ada di Banjarmasin, baik Kristen Protestan maupun Katolik meminta izin penuh memanfaatkan Pekuburan Kamboja kepada pemerintah. “Mulai saat itu area pemakaman ini banyak dikuburkan dari jenazah Nasrani,” ulasnya.
Kini area pemakaman itu berubah menjadi RTH yang nyaman. Namun, menyulap itu, Pemko Banjarmasin perlu upaya ekstra memindah pekuburan ke Pulau Beruang, Jalan Achmad Yani Km 21, Banjarbaru.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief