Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Tahulah Pian, Sejarah Pappagatang di Tanah Bumbu

Zulqarnain Radar Banjarmasin • Kamis, 21 Desember 2023 | 10:11 WIB
TAHULAH PIAN: Foto sejarah nelayan Pagatan berjudul Suku Bugis di Pagatan, Tanah Bumbu sebelah timur Bandjermasin (Boeginees te Pagatan ten oosten van Bandjermasin) tahun 1900-an.
TAHULAH PIAN: Foto sejarah nelayan Pagatan berjudul Suku Bugis di Pagatan, Tanah Bumbu sebelah timur Bandjermasin (Boeginees te Pagatan ten oosten van Bandjermasin) tahun 1900-an.

Tradisi musiman nelayan dari Sulawesi Selatan menjadi salah satu faktor awal migrasi orang Bugis ke Tanah Bumbu. Orang Bugis yang berpindah pada tahun 1900-an, selain petani dan pedagang, umumnya memiliki profesi sebagai nelayan.

Pesisir Pagatan dihuni oleh masyarakat yang mayoritas penduduknya merupakan Suku Bugis Pagatan. Nelayan yang bermigrasi secara musiman itu kerap disebut sebagai nelayan Pegatang atau Pappagatang.

Migrasi musiman ini diperkirakan dimulai pada tahun 1920-1931 oleh juragan (Ponggawa) bernama Muda, bersama 12 pemuda sekampungnya dari Desa Pajukukang, dan beberapa nelayan penangkap ikan terbang dari Galesong Kabupaten Takalar di Sulawesi Selatan.

Migrasi ini berakhir sekitar tahun 1944 akibat Perang Dunia II. Namun, pada 1959, migrasi musiman kembali dimulai setelah kemerdekaan. Berdasarkan laporan penelitian Sutinah Made pada 2011, pasang-surut migrasi musiman juga terjadi karena kemajuan ilmu dan teknologi yang maju begitu pesat.

Menurut Mansyur, sejarawan asal Universitas Lambung Mangkurat (ULM), nelayan Bugis Makassar dikenal dengan jiwa pelaut yang kuat. Ia menyebut ada dua alasan utama mengapa nelayan Bugis Makassar melakukan migrasi musiman. Pertama, mereka adalah jiwa pelaut yang terpanggil untuk mengarungi lautan. “Kedua, melimpahnya ikan di daerah tujuan juga menjadi alasan migrasi,” ujarnya.

Di Pagatan, nelayan terbagi tiga. Ada Ponggawa alias pemilik kapal dan alat tangkap. Juru mudi yang memimpin penangkapan ikan. Sawi yang membantu juru mudi di laut. “Dari pembagian tersebut, juru mudi dan Sawi lah yang dapat disebut nelayan sejati, karena mereka langsung turun ke laut. Sementara Ponggawa lebih cocok disebut pengusaha ikan,” terangnya.

Nelayan Bugis Pagatan mengenal musim barat pada Oktober-April. Di periode ini angin dari arah barat membawa gerombolan ikan kembung ke pesisir laut di tenggara Kalimantan, dari Tanjung Selatan hingga Pulau Laut.

Sementara bulan Mei–September atau musim tenggara membawa masa paceklik bagi nelayan. Sebab, angin tenggara mendorong ikan keluar dari pesisir pantai untuk berkembang biak di tengah laut sekitar Pulau Masalembu di perairan Jawa Timur.

Ia mengatakan, bagi masyarakat pesisir Pagatan, menjadi nelayan adalah pekerjaan utama untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sektor perikanan yang muncul pada tahun 1920-an adalah bagian dari perkembangan ekonomi migran Bugis di Tanah Bumbu. “Apalagi tahun 1930, malaise menyebabkan sektor perkebunan para bangsawan Bugis Pagatan merosot. Sehingga banyak di antara mereka beralih ke usaha perikanan,” paparnya.

Nelayan Bugis yang bermigrasi membentuk perkampungan di pesisir Pantai Pagatan seperti Kampoeng Pejala, Goesoengnge, Wirittasi, dan Joekoe Eja. Kampung-kampung ini menjadi basis utama nelayan Bugis Pagatan pada 1920-1940-an. 

Editor : Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#Tahulah Pian #Tanah Bumbu #Sejarah #Sejarah Banua