Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Tahulah Pian, Jasa Ketiga Orang Ini hingga Dijadikan Nama Jalan di Batola

Maulana Radar Banjarmasin • Rabu, 6 Desember 2023 | 09:09 WIB

 

BERJASA: Para pemuda dari Batola yang berjasa dan diabadikan menjadi nama jalan.
BERJASA: Para pemuda dari Batola yang berjasa dan diabadikan menjadi nama jalan.

Tahulah pian, ada tiga nama jalan yang diambil dari nama orang di Kabupaten Batola. Jalan HM Yunus yang berlokasi di Kecamatan Bakumpai, Jalan Itak Imberamsyah dan Jalan HM Ruslan di Kecamatan Cerbon.

Tiga nama ini bukan orang yang biasa. Mereka merupakan pejuang asal Bumi Ije Jela yang telah bermakam di Taman Makam Pahlawan 5 Desember Marabahan.

Yunus, Imberansyah, dan Ruslan adalah sebagian dari pemuda Bakumpai yang rela meninggalkan keluarga dan mengangkat senjata demi mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Seperti pejuang lainnya setelah Proklamasi Kemerdekaan, mereka bertekad mengusir penjajah Belanda dari Kalimantan Selatan yang kembali datang dengan membonceng tentara sekutu Australia.

Menukil sejarah pendirian Markas Daerah BN 10 Cerbon ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan yang disusun Suryani Ruslan (putra HM Ruslan), ketiga pejuang bersaudara itu merupakan bagian dari pemberontakan 5 Desember 1945 melawan Belanda di Marabahan. Dalam peristiwa yang dikenal dengan Palagan 5 Desember itu, bendera Belanda diturunkan, dan Merah Putih pun berkibar diiringi lagu Indonesia Raya di Marabahan.

Namun, Belanda melakukan balas dendam. Tepat 7 Desember 1945, mereka mendatangkan pasukan NICA dari Banjarmasin, serta mengepung Marabahan mulai Ulu Benteng dan Bagus. Akibat kekuatan persenjataan yang tak seimbang, pejuang mengambil siasat mundur. Marabahan kembali diduduki Belanda.

Dalam pertempuran tersebut, Wahidin dan Atak gugur. Tak sedikit pula pejuang yang ditangkap dan dieksekusi, seperti H Muhammad Taher dan Bachdar Johan. Kemudian 41 pejuang lain dibawa ke Banjarmasin dan Nusakambangan.

Mereka yang berhasil lolos dari kejaran musuh, masuk ke hutan-hutan untuk meneruskan perjuangan gerilya. Termasuk di antaranya Yunus, Imberansyah dan Ruslan yang mundur hingga ke Bantuil.

Beberapa bulan pascapemberontakan 5 Desember 1945, markas mereka di Bantuil didatangi sejumlah pejuang dari Kandangan. Di antaranya Abdurrahman Lubis yang membawa pesan agar perjuangan harus diteruskan. Setelah berhasil meneruskan pesan itu hingga ke Banjarmasin, Abdurrahman kembali ke Bantuil untuk bergerilya bersama Yunus, Imberansyah, Ruslan, Junaidi, Ahli Razak, Jabir, Anang Abrar, Marli Hasan dan pejuang lain.

"Sebagian besar pejuang di Marabahan merupakan anggota Barisan Pemberontak Republik Indonesia (BPRI), sebelum kemudian bergabung dengan MN 1001/MTKI," ungkap Mansyur, pengamat sejarah Banjarmasin.

Dosen program studi Pendidikan Sejarah Universitas Lambung Mangkurat (ULM) itu menjelaskan kemudian mulai tahun 1948, mereka memilih serentak bergabung dengan ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan.

Di sisi lain, tekanan Belanda juga semakin kuat. Dengan kekuatan senjata yang lebih modern, mereka membuat semangat perlawanan pejuang-pejuang di Kalimantan cukup mudah dipatahkan. Namun bak api dalam sekam, tekanan itu yang membuat semua barisan pejuang bersatu. "Dengan bendera ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan, perang gerilya mulai berkobar. Perlawanan tidak lagi dilakukan sporadis, tetapi direncanakan lebih matang dan bersatu. Perjuangan Yunus, Imberansyah dan Ruslan mendapat dukungan masyarakat," cerita Mansyur.

Tak cuma di Bantuil, dukungan juga datang dari masyarakat di Sungai Gampa, Sungai Pantai, Pindahan Baru, Marabahan, Anjir Serapat, Kuripan, hingga Hulu Barito. Kemudian terbentuk pangkalan-pangkalan di setiap desa, termasuk di Marabahan hingga Mengkatip di Barito Selatan.

"Dukungan itu pula yang menguatkan pejuang menyerang ke Mengkatip, setelah tersiar kabar kedatangan Asisten Wedana bersama tentara NICA," kata Mansyur.

Dipimpin Imberansyah dan Abdurrahman, pasukan ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan berangkat menyerang menggunakan jukung dan bersenjatakan mandau. Sekitar pukul 02.00, penyergapan pun dilakukan. Tanpa perlawanan berarti dan korban jiwa dari pihak pejuang, musuh dapat ditaklukkan.

Dari penyergapan itu, dirampas 4 senapan karaben dan 1 pistol beserta peluru. Namun semua tawanan dilepaskan, setelah bersedia membantu secara diam-diam.

Semenjak penyergapan tersebut, Belanda mulai mewaspadai pergerakan pejuang di Bantuil.

Namun kewaspadaan penjajah tetap kalah dengan kegigihan pejuang. Diperkirakan terjadi di pertengahan 1947, mereka berani mengadang Kapal Biliyung Hoat di Rimbun Tulang, Kuripan. Kapal tersebut membawa tentara KNIL dari Muara Teweh ke Banjarmasin.

"Tiga orang dari pihak musuh berhasil ditawan. Hanya saja keberanian itu mesti dibayar dengan kematian salah seorang pejuang bernama Ibas. Setelah penyergapan di Rimbun Tulang, markas pun dipindahkan ke Sungai Bamban untuk menghindari mata-mata Belanda," tuturnya.

Selanjutnya perjuangan Yunus, Imberansyah dan Ruslan dilakukan di kawasan Anjir Serapat, sembari memberi pengertian kepada masyarakat bahwa Indonesia sudah merdeka. Di Anjir Serapat, tepatnya awal 1948 di kilometer 18, pasukan pimpinan Abdurrahman dan Imberansyah juga sempat mengadang kapal Belanda yang membawa tentara ke Kuala Kapuas.

Namun, penyergapan ini menewaskan Abdurrahman dan Tarlam. Selanjutnya komandan sektor pertempuran diserahkan kepada Imberansyah dan Jarman sebagai wakil.
Seusai membantu penyerangan di Buntok, markas dipindah lagi ke Hanjalutung yang terletak di Sungai Gampa. Akhirnya 1 Januari 1948, didirikan Markas Daerah BN 10 Cerbon ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan.

Yunus dipercaya sebagai kepala markas daerah. Imberansyah menjabat komandan sektor pertempuran, dan Ruslan menjadi kepala staf.

Selama masa pertempuran itu, sejumlah nama memberikan peran masing-masing. Salah seorang di antaranya H Basirun. Ayah HA Sulaiman HB tersebut merupakan penyandang dana Markas Daerah BN 10 Cerbon.

Ketika bermarkas di Hanjalutung, pernah dilakukan upacara peringatan HUT RI ke-3. Kendati berlangsung sederhana di dalam hutan, upacara itu benar-benar menggelorakan semangat pejuang.

Belanda sendiri tidak tinggal diam. Mereka melakukan serangan balasan siang dan malam menggunakan kapal motor BO dan Rinjani. Akibatnya terjadi pengungsian besar-besaran masyarakat ke sejumlah pelosok.

Semenjak menjadi bagian Divisi IV Pertahanan Kalimantan, pasukan Markas Daerah BN 10 Cerbon beberapa kali terlibat dalam pertempuran sengit di Banua Anam. Salah satu pertempuran sengit terjadi di Birayang yang dipimpin Imberansyah. Abul dan Mastu gugur dalam pertempuran itu, sementara Tucil mengalami luka parah.

Setelah Proklamasi Gubernur Tentara ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan tertanggal 17 Mei 1949, diikuti gencatan senjata mulai 2 September 1949, seluruh pasukan kembali ke markas masing-masing.

Sementara Markas Daerah BN 10 Cerbon juga sudah pindah dari Hanjalutung ke Kampung Pematang Bantuil. Demikian pula Yunus, Imberansyah dan Ruslan yang menetap di kawasan tersebut hingga meninggal dunia.

Mereka dikebumikan di Bantuil, sebelum dipindahkan ke Makam Pahlawan 5 Desember Marabahan di pertengahan 1988 bersama 5 pejuang lain, yakni Wahidin, Ibas, Hadiun Alber, Muhammad Tailah dan Ali Tahir.

Demi mengenang jasa mereka, Pemerintah Kabupaten Barito Kuala juga mengabdikan HM Yunus, Atak Imberansyah dan HM Ruslan sebagai nama jalan.

 

Editor : Eddy Hardiyanto

Editor : Muhammad Helmi
#Batola #Tahulah Pian #nama jalan