BANJARMASIN – Di edisi tahulah pian sebelumnya, Radar Banjarmasin sudah mengulas kisah masa kecil Habib Hamid Bahasyim atau biasa dikenal dengan nama Habib Basirih. Pada edisi kali ini, akan diulas singkat masa remaja ulama tersohor Banjarmasin ini.
Habib Basirih pada masa mudanya pergi jauh untuk menuntut ilmu dan memperdalam ajaran agama Islam. Berguru dengan seorang ulama terkenal dan senior sewaktu mengaji dan menuntut ilmu di Mekkah. Sepulangnya dari Mekkah, beliau berguru dengan seorang ulama besar bernama Syech H Jamaluddin Al-Banjari atau Surgi Mufti.
Dosen Sejarah Universitas Lambung Mangkurat, Mansyur menceritakan kisah masa remaja sang ulama. Ia mengatakan bahwa pekerjaan Habib Basirih sama seperti ayahnya, berdagang dari Banjarmasin. Dengan menggunakan kapal, beliau membawa barang-barang berupa makanan, jurusan Banjarmasin-Surabaya. Berhubung pada zaman dulu, di sini masih dikelilingi hutan maka jalur transportasi semuanya melalui sungai. Ia juga seorang pendakwah dan memimpin suatu pengajian.
Ia melakukan dakwah duduk atau halaqah. Halaqah atau halqah artinya lingkaran. Halaqah adalah pengajian di mana orang-orang yang ikut pengajian itu duduk secara melingkar.
Dalam bahasa lain disebut juga majelis taklim, atau forum yang bersifat ilmiah. “Beliau tidak berdakwah dari satu tempat ke tempat lain, tapi menetap. Jemaah lah yang menghampiri beliau. Karena sifat beliau yang tertutup, maka jemaah pengajian beliau tidak banyak. Hanya orang-orang terdekat saja yang tahu mengenai pengajian beliau,” cerita Mansyur.
Ajaran dakwah yang Habib Basirih ajarkan sunah Rasulullah atau disebut juga Ahlussunah Wal Jama’ah. Salah satu organisasi kemasyarakatan Islam yang mengikuti Ahlussunah Wal Jama’ah yaitu Nahdlatul Ulama.
Nahdlatul Ulama (NU) bergerak di bidang keagamaan dan kemasyarakatan, serta dibentuk dengan tujuan memahami dan mengamalkan ajaran Islam, baik dalam konteks komunikasi dengan Allah SWT maupun sesama manusia.
Mansyur menjelaskan setelah itu Habib Basirih dikawinkan dengan seorang putri dari keturunan bangsawan Banjar. Berasal dari Sungai Baru yaitu Gusti Basirihah binti Gusti Nuh binti Gusti Pangeran Muda Muhammad Sholeh dari Tambak Anyar.
Dari perkawinan ini lahirlah 4 anak. Seorang putra laki-laki bernama Sayyid Hassan, dan tiga perempuan masing-masing Syarifah Sya’adah, Syarifah Buhaia, dan Syarifah Mariam.
Editor : Eddy Hardiyanto
Editor : Muhammad Helmi