Tahulah pian, satu lagi kuliner khas Amuntai yang sayang untuk dilewatkan. Kali ini bernama pais sagu. Apa yang unik dari jajanan ini?
Pais sagu adalah salah satu jenis kue basah tradisional khas Kalimantan Selatan. “Kerap dijumpai di pasar-pasar tradisional di Amuntai,” ucap Aidha Elma Syarifah, Putri Pariwisata Hulu Sungai Utara.
Apalagi menjelang puncak hari pasar setiap Kamis. Pedagang kue ini biasanya membuka kedai lebih ramai dari biasanya. “Setiap Rabu malam dan Kamis, pedagang kue ini ramai berjualan,” beber Elma.
Sama halnya kue pais pada umumnya, pais sagu dibungkus dengan daun pisang sebelum dikukus. Kue ini berbahan dasar tepung sagu dan pisang talas.
Pembuatannya cukup mudah. Siap kan tepung sagu, tambahkan air hangat sedikit demi sedikit sembari mengaduk. Pastikan hingga merata dan mencapai tingkat kekentalan sedang.
Setelah adonan siap, tambahkan pisang talas yang sudah dipotong kecil-kecil. “Ada yang dicampur langsung ke adonan. Ada pula yang ditambahkan saat membungkus ke daun,” jelas Elma.
Kenapa harus pisang talas? Karena pisang ini memiliki tekstur yang lembut saat dimasak. Selain itu, pisang ini juga terkenal manis dan wangi, sehingga menambah cita rasa dari pais tersebut.
Selanjutnya maju ke tahap pengemasan. Siapkan daun pisang, ukurannya kurang lebih 20 sentimeter. Juga lembar daun pelapis untuk di bagian dalamnya.
Pedagang pais sagu di Jalan Pekapuran Raya, Banjarmasin Timur, Hikmah menuturkan pengemasan pais sagu lebih mudah dengan memanaskan daunnya terlebih dahulu. “Panaskan dulu daun pisang di api, sehingga agak layu dan mudah untuk dilipat,” saran Hikmah, asal Danau Panggang, HSU itu.
Setelah itu, tuang adonan dan lipat perlahan. Pastikan agar kemasan menutup sempurna. Supaya adonan tidak berceceran. Kukus kue kurang lebih satu jam.
Sementara mengukus, siapkan bahan pemanis. Rebus gula aren dengan air dan daun pandan. “Tambahkan sedikit garam agar rasanya semakin nikmat,” ujarnya.
Jika keduanya sudah beres, sajikan pais sagu di piring. Tambahkan parutan kelapa muda yang telah dikukus di bagian atas pais. “Lalu beri kuah gula merah tadi. Kue ini siap untuk dinikmati,” ujarnya.
Ia menuturkan, pais sagu cocok dikonsumsi kapan saja. Umumnya masyarakat memakannya untuk sarapan atau sebagai camilan di sore hari.
Harga jual pais ini terjangkau. Biasanya hanya Rp2.000 per bungkus. “Kue tradisional ini kerap dijual berbarengan dengan kue tradisional lainnya, seperti lupis dan serabi,” beber Hikmah.
Editor : Eddy Hardiyanto
Editor : Muhammad Helmi