Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Tahulah Pian, Awal Mula Kota Pagatan di Tanah Bumbu

Zulqarnain Radar Banjarmasin • Kamis, 23 November 2023 | 08:45 WIB

 

TAHULAH PIAN: Lukisan pensil Kampung Baru di Pagatan, Tanah Bumbu, tahun 1845 yang dilukis Heinrich von Gaffron.
TAHULAH PIAN: Lukisan pensil Kampung Baru di Pagatan, Tanah Bumbu, tahun 1845 yang dilukis Heinrich von Gaffron.

Tahulah pian? Kampoeng Pagattang adalah sebutan awal Kota Pagatan di Kecamatan Kusan Hilir, Kabupaten Tanah Bumbu saat ini. Pagattang diambil dari pemagatan atau pemotongan rotan.

Awalnya Kampoeng Pagattang hanya hutan belantara. Namun, Pagattang berkembang pesat menjadi salah satu bandar kecil strategis. Sebab, lokasinya berbatasan dengan laut Jawa, dan dilalui oleh Sungai Kusan.

Menurut disertasi Kathryn Gray Anderson dari Universitas Hawaii, sebelum dibuka oleh Puanna Dekke pada tahun 1735, sebenarnya sudah ada beberapa orang Bugis dan Banjar yang tinggal di Pagatan sejak tahun 1729.

Puanna Dekke adalah bangsawan dan pedagang Bugis asal Wajo, Sulawesi Selatan, yang merantau ke Kalimantan pascakonflik politik di sana. Karena masih dalam wilayah Kerajaan Banjar, Puanna Dekke harus menghadap Panembahan Kaharuddin Halilullah di Martapura, ibu kota Kerajaan Banjar.

Panembahan setuju orang Bugis membuka daerah Pagatan dengan dua syarat. Pertama, Puanna Dekke menanamkan investasi pembangunan permukiman baru di atas lahan hutan belantara. Kedua, Puanna Dekke dapat menjamin keamanan perairan di Muara Pagatan yang sering digunakan sebagai markas bajak laut.

Jika setuju, sultan mempersilakan orang Bugis menempati daerah Pagatan yang dapat diwariskan kepada anak cucunya. “Puana Dekke pun menyanggupinya,” ujar Mansyur, sejarawan asal Universitas Lambung Mangkurat (ULM).

Kendati berandil besar sebagai pionir, Puanna Dekke tak mau menjadi raja. Menurut Mansyur, kemungkinan karena ia hanya keturunan bangsawan menengah dari Wajo. Ia pun mengundang saudaranya, Pua Janggo dan La Pagala dari Kalimantan Barat.

Hingga diputuskan, La Pangewa, cucu Puanna Dekke yang masih keturunan raja di tanah Bugis, diangkat menjadi raja Pagatan pertama. Setelah dikhitan dan dikawinkan, La Pangewa pun dinobatkan sebagai raja.

Tapi saat itu, ia masih belia. Jadi pemerintahan sementara dipercaya kepada pamannya, Raja Balo. “Sambil mendidik dan membimbing La Pangewa menjadi pemimpin setelah dewasa,” ujarnya.

Berdirinya Kampoeng Pagattang menjadi cikal bakal terbentuknya identitas to-Ugi’, ciri khas orang Bugis Pagatan. Kata "Ugi" merujuk kepada La Sattumpugi, raja pertama di Pammana, Wajo, dari Kedatuan China, Kerajaan Bugis kuno. Merujuk nama raja mereka, rakyat pun menjuluki diri dengan nama to-Ugi atau pengikut La Sattumpugi.

Editor : Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#asal usul #nama daerah #Tahulah Pian #Tanah Bumbu