Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Tahulah Pian, Pejuang di Balangan Jalankan Taktik Gerilya Mengadang Ini

M Dirga • Senin, 20 November 2023 | 11:05 WIB
TAHULAH PIAN: Pejuang di Balangan berani melakukan ini agar tidak dijajah kembali.
TAHULAH PIAN: Pejuang di Balangan berani melakukan ini agar tidak dijajah kembali.

 

PARINGIN – Rasa nasionalisme masyarakat Kabupaten Balangan tidak perlu diragukan lagi. Nasionalisme itu telah terpupuk sejak lampau. Sebelum Indonesia merdeka. Perasaan cinta terhadap tanah air itu terbentuk dari perlawanan terhadap penjajah.

Mereka bergerak memperjuangkan kemerdekaan melalui taktik gerilya. Bergabung dalam laskar sebagai organisasi perjuangan rakyat. Sejarawan asal Balangan, Syaifullah menyebut pada tanggal 2 September 1945, awal kedatangan tentara sekutu (Australia) beserta tentara NICA di Banjarmasin di bawah pimpinan Kolonel Robson. Kedatangan itu memboyong kekuatan militer sebanyak 250 orang.

Para tentara secara berangsur-angsur menyebar ke seluruh wilayah di Kalimantan Selatan, termasuk di Balangan. Dalam kurun waktu yang relatif singkat, mereka berhasil menduduki wilayah-wilayah tersebut. "Jadi rakyat Kalimantan, khususnya Balangan, berjuang dengan aksi-aksi untuk menolak kedatangan NICA. Perjuangan ini awalnya digerakkan oleh organisasi-organisasi kelaskaran yang berdiri sendiri-sendiri, dan memiliki ciri khas di bidang kemiliteran," ucapnya.

Alumni Pendidikan Sejarah FKIP itu menambahkan, sebenarnya gerakan kelaskaran ini sudah banyak berdiri sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. Mereka menghadapi penjajahan Jepang yang saat itu menduduki wilayah Hindia-Belanda. Kemudian gerakan kelaskaran ini menjelma menjadi gerakan perlawanan terhadap NICA yang berkuasa kembali.

Sejumlah seruan kepada rakyat dilakuan organisasi kelaskaran ini. Di antaranya dengan cara mengarak bendera Merah Putih, atau naik ke rumah-rumah warga untuk mengajak berjuang dengan tanpa paksaan. "Mereka didukung para alim ulama atau tokoh-tokoh agama yang menyampaikan khotbah untuk ikut berjuang. Hal tersebut merupakan jihad fisabilillah," bebernya.

Bentuk perjuangan rakyat Balangan melawan NICA dengan ikut bergabung dalam organisasi-organisasi kelaskaran seperti Gerpindom Amuntai ataupun Gerpindom Birayang yang terbentuk sejak tahun 1945. Mereka bergerak dengan bergerilya ke dalam-dalam hutan untuk menyusun strategi perlawanan.

Akibat dari semakin kuatnya kekuatan NICA, organisasi-organisasi kelaskaran, termasuk Gerpindom, bergabungan dengan ALRI Divisi IV. Rakyat Balangan banyak juga tergabung bersama ALRI. Padahal mulanya hanya petani biasa, dan tidak ikut organisasi kelaskaran sebelumnya.
Bersama ALRI, mereka terbentuk regu-regu yang bertugas di berbagai wilayah dalam satu kesatuan. Penyerangan yang mereka lakukan seperti dengan mengadang kendaraan milik militer Belanda di jalan, atau penyerangan ke markas-markas musuh.

"Tempat-tempat perlawanan terhadap tentara NICA di Balangan di antaranya terjadi di Paringin, Pasar Awayan, Batu Mandi, Galumbang (Juai), Halong, dan Lampihong. Penyerangan ke wilayah lain (luar Balangan) seperti di Amuntai, Birayang, dan Murung Pudak," lanjutnya.

Syaifullah merunut perjuangan rakyat Balangan dilakukan dengan cara sistem regu. Masing-masing regu dikomandani satu orang yang ahli dalam menggunakan senjata api. Sedangkan anggotanya bersenjatakan alat seadanya seperti dum-dum, parang, kujur buluh, dan lainnya. "Mereka menyusun strategi atau bapolitik (berpolitik, red) sebelum melakukan perjuangan atau manggurilya (gerilya, red). Penyusunan strategi ini tidak sembarang tempat. Dipilih lokasi yang aman dari tentara NICA dan spionnya, seperti di rumah-rumah khusus, hutan, atau tempat-tempat yang dianggap aman," tambahnya lagi.

Dalam hal penyerangan, beberapa strategi dilakukan. Seperti menjadikan satu orang penembak yang bisa dilihat oleh tentara NICA sebagai umpan. Lalu berjalan mundur di tanah yang lemah untuk menipu jejak dari tentara NICA. Lantas menggunakan balik mari alias kaleng biskuit yang dipukul untuk mengeluarkan suara seperti tembakan. Upaya penyerangan tersebut dilakukan dari sore menjelang malam hari.

Untuk bertahan hidup, para pejuang membawa bekal sendiri. Ada juga pangkalan makanan di rumah warga atau di dalam hutan. "Ketika di dalam hutan (tanpa adanya pangkalan, red,) mereka memasak dengan menggunakan alat dari alam yang hanya berbekal beras, terasi, ikan asin, dan sebagainya," pungkasnya.(mr-160/gr/dye)

Editor : Arief
#Balangan #pejuang #Sejarah #Sejarah Banua