Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Tahulah Pian, Kalau Mau Pesan Jukung Ulin di HSU Bisa ke Desa Ini

M Akbar • Jumat, 17 November 2023 | 09:53 WIB
TAHULAH PIAN: Warga desa ini di HSU tidak hanya memproduksi mebel aluminium, juga jukung ulin
TAHULAH PIAN: Warga desa ini di HSU tidak hanya memproduksi mebel aluminium, juga jukung ulin

Tahulah pian, di Desa Tapus, Kecamatan Amuntai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) dikenal sebagai penghasil jukung (sampan) berbahan baku kayu ulin. Warga Kabupaten Hulu Sungai Utara memang dikenal memiliki bakat dalam seni pertukangan kayu dan aluminium. Tak heran daerah ini dikenal sebagai sentra industri dan kerajinan.

Desa Tapus ini berjarak 10 kilometer dari Amuntai, ibu kota HSU. Selain berprofesi nelayan tangkap, di desa ini warganya ada juga yang membuat jukung segala model dan ukuran.

Haji Atta salah satu maestro jukung ulin yang terkenal di desa tersebut. Bahkan, masih eksis sampai saat ini. Tak terhitung jumlah jukung yang diproduksinya sejak tahun 1991. “Dulu ikut orang tua. Lalu memilih membuka usaha serupa,” ujarnya. Dari usaha ini, ia menghidupi keluarganya.

Untuk harga sangat bervariasi, tergantung ukuran maupun pesanan modelnya. Atta membuat jukung di halaman rumahnya yang sudah diberikan atap tersebut. Jadi halaman sekaligus bengkel produksi. Praktis rumahnya berbau khas serutan sisa pemotongan kayu dan juga beraroma cat.

Jukung ukuran tiga meter sampai tujuh meter, waktu pengerjaannya dua sampai lima hari. Semakin panjang perahu pesanan, makin lama juga waktu pengerjaannya.

Bahan baku kayu ulin didapatkannya dari penjual kayu di Kota Amuntai. “Saat ini ulin semakin sulit didapatkan. Bahan baku sebenarnya bisa diganti dengan kayu jenis lain yang lebih murah. Cuma daya tahan kurang. Maka itu pemesan banyak memilih kayu ulin,” bandingnya.

Jukung produksinya tidak hanya diminati warga Kalsel. Bahkan ada juga pesanan warga maupun instansi dari Kalteng dan Kaltim.

Meski kemajuan teknologi transportasi berkembang, Atta optimis usahanya bisa bertahan. Selama ada nelayan mempertahankan tradisi budaya Banjar yang hidup berdampingan dengan sungai maupun rawa, maka terus ada pemesanan jukung.

Kades Tapus, Rahmatullah mengakui usaha Atta masih eksis. Bahkan mampu bertahan di tengah kemajuan zaman dan pandemi Covid-19. “Di samping usaha mebel aluminium, usaha jukung Atta salah satu ciri khas desa kami,” terangnya.

Editor : Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#jukung #kerajinan tangan #Hulu Sungai Utara