Apam Barabai merupakan kue basah yang dibuat dari tepung beras, santan, gula merah atau putih, dan tape singkong. Kue ini berbentuk bulat tipis. Ada dua macam Apam Barabai. Berwarna merah kecokelatan, dan warna putih.
Apam Barabai berwarna merah kecokelatan menggunakan gula merah. Jadi rasanya sangat khas, gurih dan manis. Aromanya pun kuat khas dari gula aren. Jika kurang suka aroma dan rasa gula merah, bisa memilih apam yang putih ini. Rasanya juga manis.
Biasanya apam ini dibungkus dengan daun pisang. Satu bungkus isinya biasa 8-10 lapis apam. Harganya Rp10 ribu. Sangat terjangkau untuk dijadikan oleh-oleh. Kue ini bisa tahan sampai 3 hari, tergantung suhu penyimpanannya.
Tak sulit jika ingin mencari kue ini. Di Jalan A Yani, sepanjang jalan dari Simpang Sepuluh sampai Lampu Merah Surapati. Apam Barabai sudah sejak lama dijual di Barabai. Hingga saat ini masih bertahan, tak lekang oleh waktu.
Apam ini ternyata memiliki kisah legenda di Indonesia. Mengutip dari laman resmi Kemendikbud Ristek, kue ini sering juga disebut Apem. Dibawa oleh Ki Ageng Gribig yang merupakan keturunan Prabu Brawijaya saat kembali dari perjalanannya dari tanah suci.
Ia membawa oleh-oleh 3 makanan dari sana. Namun karena terlalu sedikit, kue apem ini dibuat ulang oleh istrinya. Setelah jadi, kue-kue ini kemudian disebarkan kepada penduduk setempat.
Kepada penduduk yang berebut mendapatkannya, Ki Ageng Gribig meneriakkan kata “yaqowiyu” yang artinya “Tuhan berilah kekuatan”.
Kemudian kue ini dikenal oleh masyarakat Indonesia sebagai kue apam, berasal dari saduran bahasa Arab “affan” yang bermakna ampunan.
Supaya masyarakat juga terdorong selalu memohon ampunan kepada sang pencipta. Lambat laun kebiasaan ‘membagi-bagikan’ kue apam ini berlanjut pada acara-acara selamatan.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief