Tahulah Pian? Kopiah jangang ternyata perajinnya hanya ada di Kabupaten Tapin. Tepatnya di Kecamatan Candi Laras Selatan, maupun Candi Laras Utara.
Di balik keunikan dan kerumitan dalam proses pembuatannya, ternyata peci yang terbuat dari akar jangang ini dulunya juga menjadi penanda strata sosial seseorang di masyarakat Banjar kala itu.
“Jadi dari cerita orang tua dulu, kopiah ini tidak dipakai oleh sembarang orang. Hanya dipakai oleh tokoh agama, kalangan santri, pambakal atau para jagoan silat kuntau,” ucap Penyuluh Perindustrian dan Perdagangan dari Dinas Perindustrian Tapin, Muhammad Nurdin.
Bahkan, sebelum dikenal songkok hitam seperti sekarang ini, dulunya masyarakat muslim di Kalsel banyak memakai kopiah jangang. “Namun dalam perjalanan waktu, kopiah jangang akhirnya bisa bertransformasi dipakai untuk semua kalangan masyarakat umum,” jelasnya.
Sekarang pun dijadikan oleh-oleh untuk para tamu atau wisatawan yang datang ke Kabupaten Tapin. Banyak tokoh-tokoh agama yang sering memakai kopiah ini. “Seperti almarhum Gus Dur, dan Habib Bahar bin Smith kerap memakai kopiah jangang,” katanya.
Memang kopiah jangang merupakan kearifan lokal dan mata pencarian masyarakat di wilayah pesisir sungai. “Jadi kerajinan ini turun menurun, dari nenek moyang dahulu,” paparnya.
Dalam mengolah kerajinan ini, tidak menggunakan mesin. Tetapi hanya pakai tangan atau manual saja. “Dalam pembuatan produk harus teliti dan rapi, sehingga membuat konsumen merasa puas dan percaya terhadap pembuatan anyaman jangang,” jelasnya.
Untuk kualitas bahan, biasanya dipilih yang terbaik, sehingga produk-produk nantinya dapat bertahan lama dan awet. “Termasuk bahan finishing yang digunakan adalah alam asli,” ucapnya.
Camat Candi Laras Selatan, Zaul Rahman mengakui bahwa sejarah kopiah jangang berdasarkan cerita warga maupun jurnal yang dibacanya, memang kerajinan ini khas Kabupaten Tapin. “Jadi kopiah jangang merupakan suatu peninggalan yang diturunkan dari nenek moyang,” ungkapnya.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief