Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Tahulah Pian, Banjir Besar di Martapura Pernah Terjadi di Era Kolonial Belanda

M Oscar Fraby • Jumat, 10 November 2023 | 08:41 WIB
AKTIVITAS TERHENTI: Tahulah pian, banjir besar di Martapura juga pernah dua kali terjadi pada masa kolonial Belanda.
AKTIVITAS TERHENTI: Tahulah pian, banjir besar di Martapura juga pernah dua kali terjadi pada masa kolonial Belanda.

Masih ingat banjir besar yang melanda Kabupaten Banjar tahun 2021 lalu? Tahulah pian, rupanya musibah ini bukan yang pertama. Bahkan sudah terjadi di masa kolonial Belanda.

Peneliti sejarah FKIP ULM, Mansyur menerangkan kejadian ini sebenarnya merupakan banjir besar keempat yang melanda Martapura dalam catatan sejarah Banua. Ia menyebut sebelumnya pada era Orde Lama, tepatnya pada 28 Maret 1953, banjir besar juga pernah terjadi di 3 kecamatan yakni Martapura, Pengaron, dan Karang Intan.

Ini pernah pula ditulis oleh Amir Hasan Bondan dalam Suluh Sedjarah Kalimantan (1953). Amir menilai banjir kala itu terbesar selama delapan tahun terakhir, setelah kemerdekaan 1945. “Kalau dihitung, banjir besar terjadi setelah momen dua bulan sebelumnya Presiden Soekarno telah berkunjung ke Banjarmasin, 25 Januari 1953,” kata Mansyur.

Banjir besar sebelumnya pernah terjadi di wilayah Martapura adalah pada saat masa kolonial Belanda. Tahun 1937, dan tahun 1932. “Dari tiga banjir besar sebelum tahun 2021, banjir tahun 1937 menjadi air bah terbesar di wilayah yang dulunya bernama Afdeeling Martapoera itu,” sebutnya.

Musibah banjir di tahun 1937 lalu, terangnya, menjadi konsumsi pemberitaan besar di koran-koran ternama Hindia Belanda hingga Negara Belanda. “Tingkat banjir di kala itu adalah 3,6 meter di atas rekor ketinggian tahun 1932 yang hanya mencapai satu meter,” terang Ketua Lembaga Kajian Sejarah Sosial dan Budaya (SKS2B) Kalimantan itu.

Saat musibah banjir kala itu, sebutnya lagi, hingga pegawai pemerintahan Hindia Belanda, Dr A Hammarskjold di Martapura menjadi korban hingga meninggal dunia. “Saat itu koran de Nederlander, edisi 8 Juli 1937, memberitakan air bah berdebit tinggi. Banjir terjadi selama dua hari, 6 dan 7 Juli tahun 1937,” imbuhnya.

Koran ternama Hindia Belanda lainnya, De T’d edisi 9 Juli 1937 tidak ketinggalan mengabarkan banjir yang terjadi di Afdeeling Martapoera memorak-porandakan banyak kampung. Rumah penduduk banyak yang hanyut tersapu banjir. Tercatat, mulai kampung Soengei Alang 71 rumah hanyut dan 21 orang meninggal dunia. Kepala kampung (pambakal) dan keluarganya hilang.

Kemudian di Kampung Mandikapau 17 rumah menjadi korban, disusul Soengei Asam 7 rumah terbawa banjir. Sementara di Kampung Palangpangkal 36 rumah hanyut, Kampung Tiwingan 7 buah rumah larut, hingga Kampung Astamboel sebanyak 12 rumah tersapu banjir.

Demikian juga di lokasi kampung lainnya yakni Kampung Tambak Anyar, Kampung Ujung Murung, serta Kampung Bintjau (Bincau) rusak berat. “Bukan hanya merusak rumah penduduk, banjir juga mengakibatkan semua sambungan telegraf dan telepon dari Banjarmasin-Hulu Sungai terputus,” paparnya.

Sementara Jalan Pos (sekarang Jalan Ahmad Yani) bahkan terputus di sepuluh tempat. “Jalan ini hancur total sejauh 500 meter. Sementara air tergenang di badan jalan, dan jalan pun tidak bisa dilalui sepanjang 5 kilometer,” terangnya.

Untungnya banjir besar di Martapura tahun 1937, hanya berlangsung dua hari. Pascabanjir, Kampung Sei Alang pun surut hingga jarak 7 meter menuju sungai, namun kampung tersebut masih belum bebas air. “Lalu lintas telepon dan telegraf antara Bandjermasin dan Hulu Soengei telah pulih dan disambungkan kembali,” terangnya.

Editor : Eddy Hardiyanto

 

Editor : Arief
#Banjir #martapura #Tahulah Pian #Kolonial Belanda #Sejarah Banua