BANJARBARU - Segelas kopi menegaskan hitam tak selalu kotor, dan yang pahit tak selalu menyedihkan. Filosofi kopi tersebut setidaknya bisa menggambarkan branding kopi khas Kalimantan Selatan. Di era kekinian, kopi kebanggaan Banua memang masih tertinggal dibanding kopi jenis lainnya di Nusantara. Padahal terdapat sederet kopi khas Kalsel seperti Kopi Aranio, Pengaron, Mataraman, dan Liberika Bati-Bati.
Kopi Banua sebenarnya tidak hanya bisa bersaing dari segi rasa, aroma, hingga sensasi nikmatnya. Tapi, memiliki latar sejarah panjang sejak pertama kali hadir di Borneo.
Sejarawan Kalsel, Mansyur menyebut salah satu kopi yang sudah lama ada di Banua adalah Kopi Pengaron. Kopi ini sudah berusia sekitar 125 tahun sejak awal dibudidayakan di wilayah Pengaron.
Catatan pemerintah kolonial Hindia Belanda, Kopi Pengaron mulai ditanam di wilayah Sungai Batoe Kapur, Pengaron, Afdeeling Martapoera. Sungai Batoe Kapur Pangaron disebutkan merupakan area tanah sewa atau erfacht. "Luasnya sekitar 40 bouw, termasuk wilayah Afdeeling Martapoera, Karesidenan Borneo bagian selatan dan timur," ucap Mansyur.
Berdasarkan surat dan telegram dikumpulkan dari Kantor Pos Pembantu di Pengaron, area penanaman kopi ini disewa ke Pemerintah Hindia Belanda oleh dua orang penyewa J.TH Knoblauch dan G Stout, sejak 26 November 1892. Besaran biaya sewa tanah perkebunan kopi di Pengaron sekitar f 0.25.
Lantas, mengapa kawasan Pengaron dipilih sebagai lokasi penanaman kopi? Dosen Prodi Pendidikan Sejarah FKIP ULM ini menjelaskan bahwa ada kecocokan jenis tanah antara wilayah Pengaron dan Jawa, terutama untuk untuk budi daya Kopi Liberika.
"Karena itulah pada akhir tahun 1894, sudah dibuka 15 lokasi penanaman Kopi Liberika. Kemudian 2 lokasi untuk penanaman Kopi Samindo," ujarnya.
Sementara untuk jumlah pekerja di lahan ini memang masih minim. Sesuai catatan pada akhir tahun 1893, hanya terhitung sekitar 3 pekerja tetap, dan 8 pekerja paruh waktu untuk mengurus budi daya kopi di wilayah ini.
Apakah saat ini kebun-kebun kopi tersebut masih ada? Mansur menjawab iya. "Masih ada, cuma berbeda jenis. Sekarang banyak jenis Robusta. Penanamannya di sekitar Pengaron di Lok Tunggul, luasnya sekitar 20 hektare," pungkasnya.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief