Mungkin belum banyak yang tahu asal usul sebutan itu. Dulunya bukan hanya sebagai sebutan bagi anak laki-laki dan perempuan dalam keseharian semata.
Sejarawan Universitas Lambung Mangkurat, Mansyur menjelaskan ada dua versi cerita. Pertama, Nanang berasal dari kata lanang atau Bahasa Melayu artinya laki-laki. Sedangkan Galuh artinya perak, ratna, dan intan.
Pada versi kedua, Nanang atau Anang adalah gelar bangsawan di Kesultanan Banjar. Nanang merupakan gelar turun-temurun untuk anak lelaki Adipati dari Banua Lima, dan anak cucu orang sepuluh Amuntai atau sepuluh pembakal yang berjasa pada Kesultanan Banjar. Bagi keturunan perempuan diberi gelar Galuh atau Aluh.
Merujuk Hikayat Banjar zaman kesultanan Banjar, Nanang atau Anang juga adalah suatu gelar bangsawan di Kesultanan Banjar. Gelar Nanang juga diberikan kepada keturunan Kiai atau kepala distrik setingkat kecamatan.
“Semula gelar Nanang ini diperuntukkan bagi kerabat Ampu Jatmika, pendiri Negara Dipa (Amuntai), dan tidak boleh untuk kerabat dari istrinya,” ungkapnya.
Jika dihubungkan dengan gelar pada ajang Nanang-Galuh, memang tidak ada kaitannya sama sekali dengan deretan keturunan Kesultanan Banjar.
Gelar itu adalah sebutan bagi Duta Wisata. Nanang untuk gelar finalis laki-laki, sedangkan Galuh gelar untuk finalis perempuan. Gelar tersebut hanya sebagai bentuk kehormatan yang diberikan kepada para finalis.
“Kita bisa memaknainya, menyandang gelar Nanang-Galuh berarti sebagai suatu kehormatan, dan suatu pengabdian. Di antara banyak warga tidak bisa seenaknya menyandang gelar yang diakui tersebut,” pungkas Mansyur.(gmp/gr/dye)
Editor : Arief