Disadur dari keterangan yang tercantum pada catatan museum, dahulu bangunan ini milik seorang pengusaha sukses. Lahir di akhir abad ke-18. Namanya, Datuk Jalal.
Dahulu, sang datuk memiliki kebun getah di Tanah Grogot, Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim). Di Banjarmasin, Jalal dikenal sebagai pengusaha berlian.
Dengan kemampuannya secara finansial itu, ia memutuskan membangun rumah di Banjarmasin. Rumah inilah yang kemudian hari dikenal sebagai Museum Waja Sampai Kaputing.
Masih berdasarkan catatan sejarah museum, pada mulanya bangunan ini dibangun pada tahun 1810. Sejumlah pekerja etnis Tionghoa asal Singapura pun didatangkan.
Dibangun di tepi Sungai Martapura, lantaran sungai memang sudah sedari dulu menjadi urat nadi masyarakat Banjar. Aktivitas sehari-hari masyarakat yang lekat dengan sungai.
Ketika rumah itu rampung dibangun, di situlah Jalal tinggal bersama keluarga besarnya hingga wafat. Turun temurun, rumah itu terus dihuni sampai pada periode sang cucu, bernama Hj Kamesah.
Kamesah diketahui lahir pada tahun 1860. Hingga wafat pada tahun 1977 di usia 117 tahun. Sepeninggal Kamesah, rumah tersebut tidak lagi ditempati lagi oleh keturunannya.
Kemudian pada tahun 1988, atas masukan dari ZA Maulani, rumah tersebut dibeli pemerintah setempat dari ahli waris. ZA Maulani seorang tokoh militer. Saat itu merupakan Panglima Kodam VI Tanjungpura pada tahun 1988-1991.
Sebelum difungsikan menjadi museum, rumah tersebut dijadikan rumah budaya yang memberikan informasi tentang kehidupan masyarakat suku Banjar.
Saat Gubernur Kalsel dijabat oleh HM Said (1984-1995), rencana pendirian museum perjuangan pun mencuat. Namun, lokasinya di sebuah danau dan bentuk bangunannya adalah museum terapung.
Inspirasinya adalah Lanting Kotamara atau Kottamara. Sebuah benteng terapung yang digunakan oleh masyarakat Banjar ketika berperang melawan Belanda.
Namun, Gubernur M Said teringat aset rumah Banjar bertipe bubungan tinggi yang sudah dibeli. Lantas meminta agar menggunakan bangunan itu saja sebagai museum.
Persis pada 10 November 1991, bangunan itu diresmikan sebagai Museum Perjuangan Rakyat Kalsel Waja Sampai Kaputing. Berikutnya lebih dikenal dengan nama Museum Wasaka.
Berdasarkan catatan Radar Banjarmasin, museum ini memiliki tiga ruangan. Ruang pertama menyimpan foto dan lukisan gubernur dari masa ke masa. Juga mebel milik Bapak Gerilya Kalsel Hasan Basry.
Sementara ruang kedua dan juga yang terbesar, menyimpan persenjataan dan logistik perang. Persenjataan dibagi tiga jenis. Pertama, senjata tradisional seperti parang, keris, dan tombak. Kedua, senjata modern seperti senapan semi otomatis dan granat tangan.
Ketiga, senjata magis seperti jimat atau baju rajah. Pemiliknya percaya barang-barang bertuah itu bisa memberi kekebalan dari terjangan pelor dan bacokan pedang musuh.
Ada pula bendera merah putih yang diberi rajahan huruf Arab. Bendera itu dijahit tahun 1948. Dibawa dari Desa Birayang, Hulu Sungai Tengah. Perajahnya adalah H Kubur dari Desa Wawai. Bendera ini dibawa pada pertempuran Bungkukan yang pecah di Kotabaru pada 13 November 1948. Pertempuran itu dipimpin langsung oleh Hasan Basry.
Di ruangan ini juga disimpan logistik perang. Seperti mesin ketik, radio, kamera, teropong, sempoa, pena dan jurnal. Kebanyakan koleksi Wasaka berasal dari sumbangan atau diserahkan oleh keluarga veteran.(war/gr/dye)
Editor : Arief