Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Lontara Kapitan La Mattone, Diusulkan jadi Objek Cagar Budaya Baru di Tanah Bumbu

M. Syarifuddin • Rabu, 1 November 2023 | 07:09 WIB
COVER: Bagian cover depan (tampak depan) Naskah Lontara Kerajaan Pagatan. - Dok. Disdikbud Provinsi Kalsel 
COVER: Bagian cover depan (tampak depan) Naskah Lontara Kerajaan Pagatan. - Dok. Disdikbud Provinsi Kalsel 

 

Selain Goa Liang Bangkai, Lontara Kapitan La Mattone diusulkan menjadi objek cagar budaya baru di Tanah Bumbu. Lontara Kapitan La Mattone merupakan naskah tua peninggalan catatan harian Kerajaan Bugis Pagatan di Kalimantan Selatan.

Kini, naskah tersebut disimpan keturunan Raja Pagatan, Andi Satria Jaya. “Naskah ini secara turun-temurun dinamakan dengan Lontara Kerajaan Bugis Pagatan,” ujar pria yang kini menjadi Kepala Desa Kampung Baru, Kecamatan Kusan Hilir, Kabupaten Tanah Bumbu itu.

Dari struktur isinya, mirip dengan Lontara Pattaungeng atau Sureq Bilang. Catatan harian masyarakat Bugis zaman dulu yang ada di Sulawesi Selatan.

Selain dikenal sebagai Lontara Kerajaan Bugis Pagatan, naskah ini juga dikenal sebagai Lontara Kapitan La Mattone. Kapitan La Mattone adalah Mantri Kerajaan Pagatan dan Kusan. Dari cerita turun-temurun, ia diyakini adalah penulis pertama naskah ini. Meski namanya tidak tertulis, alias anonim. 

Naskah itu ditulis pertama kali pada 1 Januari 1858 Masehi (15 Jumadil Awal 1274 H). Jika dibandingkan dengan silsilah raja-raja Pagatan, catatan ini mulai ditulis di masa pemerintahan Arung Abdul Karim bin Abdul Rahim yang memerintah tahun 1855-1871.

Warisan Kerajaan Pagatan dan Kusan ini juga ditulis dalam tiga jenis aksara. Lontara, Ugi Serang (Arab Jawi dalam bahasa Bugis), dan Latin.

Dari hasil pengamatan catatan harian, aktivitas penulisan dilakukan selama 53 tahun. Dari tahun 1858 sampai dengan tahun 1911 M. “Meskipun naskah ini merupakan satu kesatuan. Namun ditulis dalam tiga bundel terpisah yang mengikuti urutan tahun secara kronologis,” kata Andi Satria Jaya.

AWAL: Bagian awal (halaman 1) Naskah Lontara Kerajaan Pagatan.
AWAL: Bagian awal (halaman 1) Naskah Lontara Kerajaan Pagatan.

Isi naskah Lontara Pagatan bervariasi. Mulai dari catatan kejadian alam, peristiwa penting di istana, perdagangan, hingga ilmu kebatinan.

Dosen FKIP ULM, Mansyur menuturkan Lontara Kapitan La Mattone merupakan bukti nyata dari proses migrasi suku Bugis ke wilayah Pagatan dan wilayah Kesultanan Banjar. Ia menyebut, sejak abad ke-17, suku Bugis telah melakukan migrasi ke berbagai wilayah di Nusantara. Termasuk Kalimantan bagian timur, Kalimantan bagian tenggara, Pontianak, Semenanjung Melayu, dan wilayah lainnya.

Di tempat-tempat tersebut, orang Bugis membangun koloni-koloni dan mengembangkan berbagai bidang. Seperti pelayaran, perdagangan, perikanan, pertanian, dan perkebunan. “Kemampuan orang Bugis untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru merupakan modal besar yang memungkinkan mereka bertahan di manapun selama berabad-abad,” ujarnya. “Menariknya, meski telah menyesuaikan diri, orang Bugis tetap mampu mempertahankan identitasnya,” pungkasnya.(dza/gr/dye)

Editor : Arief
#destinasi wisata #Tanah Bumbu #peninggalan bersejarah #benda bersejarah