Batu itu memiliki daya tarik tersendiri, hingga para pengunjung pantai mau berkeliling mengitari batu dengan kapal nelayan.
Warga sekitar percaya asal mula Batu Bajanggut itu dari kisah janda yang semasa hidupnya selalu tersakiti ulah durhaka salah seorang anaknya. Janda itu bernama Acil Sinah. Ia memiliki dua anak, Ijum dan Milah. Ijum memiliki sifat baik. Berbanding terbalik dengan adiknya, Milah yang selalu menyakiti hati ibunya.
Hingga suatu hari Acil Sinah sudah tidak tahan dengan perlakuan Milah. Ia pun memutuskan untuk pergi ke batu besar di tengah laut. Biasanya Acil Sinah menangis dan menceritakan kesedihannya kepada batu besar tersebut. Pada hari itu, batu besar terbelah. Acil Sinah pun masuk ke dalam batu.
Kedua anaknya mencari. Mereka memohon kepada batu untuk mengeluarkan sang ibu. Setelah mendapatkan ibunya, mereka kembali ke rumah. Seminggu berlalu, sifat Milah kembali kambuh. Hingga akhirnya, batu itu meminta agar Acil Sinah kembali masuk ke dalam.
Rambutnya yang panjang tidak seluruhnya ikut masuk ke dalam batu. Masyarakat percaya jika rambut itu adalah rambut dari Acil Sinah. Batu besar itu pun disebut dengan Batu Bajanggut.
Warga Takisung, Wahyu menuturkan bahwa Batu Bajanggut mempunyai bentuk atau tekstur seperti janggut pada bagian sisinya. Janggut itu muncul dari lumut yang tumbuh mengelilingi batu. "Satu hal lagi yang unik dari batu ini adalah tak pernah tenggelam meski Desa Takisung dilanda banjir," ucapnya.
Nelayan setempat membuka jasa perahu mengelilingi batu tersebut. Biayanya cukup terjangkau mulai dari Rp10 ribu hingga Rp25 ribu. Tergantung jumlah penumpang kapal.
Batu Bajanggut sebenarnya adalah terumbu karang tua berlumut yang berada tak jauh dari bibir Pantai Takisung. Lokasinya bersebelahan dengan mercusuar di pantai setempat dengan jarak sekitar 200 meter dari bibir pantai.(sal/gr/dye) Editor : Arief