Nama Tabuk disematkan kala itu lantaran jalan utama di desa tersebut menggunakan tanah tabukan alias galian. Dikerjakan secara swadaya oleh masyarakat.
Seiring waktu, nama Tabuk berganti. Dari penuturan salah satu sesepuh yang ada di desa tersebut, alasan pergantian nama desa diiringi dengan harapan bahwa kehidupan warga di sana bisa lebih baik.
"Konon, waktu masih bernama Tabuk, kehidupan warga di sini banyak yang sakit (perekonomiannya, red). Banyak warga miskin, dan tidak ada kemajuan. Lalu berdasarkan hitungan bilangan orang yang bisa menghitung, maka digantilah nama desa ini," kata Kai Aninsyah, Rabu (25/10) sore.
Pria kelahiran tahun 1950 itu menuturkan para tokoh masyarakat yang menginginkan perubahan nama desa tidak mau sembarang menggantinya kala itu. Lasung Batu akhirnya dipilih karena ada salah satu warga yang menemukan benda berbentuk lasung (bahasa Banjar untuk alat tumbuk padi, red) terbuat dari batu asli di sebuah bukit desa. Konon lasung (bahasa Indonesianya lesung, red) temuan ini memiliki kekuatan mistik yang luar biasa.
"Atas kesepakatan masyarakat desa dan tokoh-tokoh, akhirnya digantilah nama Tabuk menjadi Lasung Batu," tambahnya.
Kai Aninsyah sudah tidak bisa mengingat kapan persisnya nama Tabuk berganti Lasung Batu. Ia memperkirakan pergantian tersebut terjadi di pertengahan 60-an. "Dulu itu tidak ada peresmian secara khusus. Eh, tiba-tiba saja di semua plang atau penanda yang bertuliskan Desa Tabuk, sudah ganti menjadi Desa Lasung Batu. Sayangnya tokoh-tokoh yang dulu terlibat dalam pergantian nama desa ini sudah pada meninggal," sebutnya.
Salah satu tokoh masyarakat, Armain (54) menambahkan masyarakat terdahulu percaya bahwa lasung yang terbuat dari batu tersebut mempunyai kekuatan mistis, dan sebagai benda ajaib.
"Para warga menganggap bahwa lasung yang terbuat dari batu itu adalah simbol atau lambang dari kekuatan sikap dan keteladanan, sehingga patut dijadikan nama desa," ungkapnya.
Armain menuturkan ada semacam tradisi di kalangan masyarakat Lasung Batu. Setiap tahun, harus ada semacam syukuran di sekitar lokasi ditemukannya lasung tersebut. Jika tidak dilakukan syukuran, anggota keluarga mengalami musibah atau sesuatu yang tidak diinginkan. "Tapi, tradisi itu sekarang sudah tidak ada lagi. Orang-orang (dulu, red) sudah pada meninggal," kata Armain.(mr-160/gr/dye) Editor : Arief