Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Pasar Terapung Kuin, Sudah ada Sejak 480 tahun Lalu

M. Syarifuddin • Kamis, 19 Oktober 2023 | 09:40 WIB
BERPERAHU: Pasar Terapung Muara Kuin sudah ada sejak zaman dulu. | FOTO: DOK 
BERPERAHU: Pasar Terapung Muara Kuin sudah ada sejak zaman dulu. | FOTO: DOK 
Pasar terapung jadi landmark Kota Banjarmasin. Bahkan menjadi tujuan destinasi wisata utama. Ada beberapa titik lokasi pasar terapung. Mulai dari Muara Kuin di Sungai Barito, Pasar Lok Baintan atau Teluk Baintan, hingga yang terbaru di Siring Pierre Tendean di Sungai Martapura.

Secara geografis, beberapa wilayah di Kalsel dibelah sungai. Sejak zaman dulu jalur aktivitas masyarakat mengikuti aliran sungai. Masih minim jalan darat. Tak heran jual beli juga dilakoni di pinggiran sungai.

Pasar terapung berkategori pasar tradisional. Para pedagang maupun pembeli menggunakan sarana transportasi seperti jukung alias sampan, atau kelotok alias perahu bermesin.

Aktivitas jual beli dimulai bakda Subuh sampai matahari meninggi. Eksotisme dari Pasar Terapung terasa ketika matahari terbit di ufuk timur.

Sejarawan Universitas Lambung Mangkurat, Mansyur mengatakan dari sudut pandang historis atau kesejarahan, Pasar Terapung (floating markets) Kuin di Banjarmasin sudah ada sejak 480 tahun yang lalu.

"Dalam Bahasa Belanda dikenal dengan drijvende markt. Sudah ada tepatnya pada tahun 1530 Masehi pada masa pemerintahan Sultan Suriansyah (Pangeran Samudera)," ungkap Mansyur, kemarin (15/10).

Awal lokasinya terletak pada pertemuan Sungai Karamat dan Sungai Sigaling. Kemudian bergeser ke tepi Sungai Barito di daerah muara Sungai Kuin, pada kisaran waktu menjelang akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17 Masehi.

"Pasar Terapung Lok Baintan baru ada belakangan. Ketika perpindahan Keraton Banjar ke kawasan Kayu Tangi, Martapura sejak awal abad ke-17. Tepatnya sekitar tahun 1612 M," terang Mansyur.

Dalam beberapa literatur dituliskan bahwa Pasar Terapung di Muara Kuin Kota Banjarmasin adalah peninggalan dari aktivitas perdagangan bandar niaga Kesultanan Banjar pertama. Pada periode itu awal dituliskan sebagai bandar niaga Bandar Masih, Muara Kuin, Banjarmasin.

"Pasar Terapung muncul sejak abad ke-16 adalah tempat para pedagang Banjar zaman dahulu. Masa itu, mereka melakukan jual beli dengan pedagang dari Jawa, Melayu, Aceh, Gujarat, Arab dan China, serta pedagang lainnya," tuturnya. Seiring berjalannya waktu, tersisa hanya beberapa pedagang Pasar Terapung Muara Kuin saja yang berdagang saat ini.

Ada terdapat istilah kosa kata yang digunakan oleh pedagang di pasar terapung di masa Kerajaan Banjar pertama abad ke-16. Contohnya, sebutan bagi pedagang wanita pembawa hasil produksi yang disebut dukuh. Kemudian pedagang eceran atau tangan kedua yang membeli dari para dukuh untuk dijual kembali, disebut panyambangan. "Di masa itu terdapat keistimewaan yakni menggunakan sistem transaksi barter atau tukar menukar barang antar para pedagang berperahu," katanya.

Berdasarkan literature dari Idwar Saleh (1981/1982), Pasar Terapung Kuin berkembang seiring dengan dibangunnya Istana Kesultanan Banjar di Kuin tahun 1524-1530an. Istana atau keraton di Banjarmasin yang didirikan Sultan Suriansyah terletak di antara Sungai Barito dengan anak Sungai Sigaling, Sungai Pandai, dan Sungai Kuin. "Sungai-sungai ini pada hulunya di darat bertemu, dan membentuk sebuah danau kecil bersimpang lima. Daerah inilah yang menjadi ibu kota Kesultanan Banjar pertama," sambungnya.

Kemudian, kata Mansyur, dalam artikelnya Bani Noor Muhammad & Namiatul Aufa berjudul "Melacak Arsitektur Keraton Banjar", beranggapan lokasi keraton berada pada Kompleks Makam Sultan Suriansyah saat ini.

Senada dengan gambaran Kota Banjarmasin kuno, menurut M Idwar Saleh, adalah kompleks keraton terletak antara Sungai Keramat dengan Sungai Jagabaya. Daerah itu sampai sekarang masih bernama Kampung Keraton.

Lokasi itu merupakan tempat pemerintahan pertama yang juga rumah Patih Masih, tepatnya di daerah perkampungan Suku Melayu. Antara Sungai Keramat dan Jagabaya dengan Sungai Kuin sebagai induk daerah.

Daerah itu, pada mulanya berupa sebuah banjar atau kampung. Kemudian berubah setelah dijadikan sebuah bandar perdagangan dengan cara mengangkut penduduk Daha dan seluruh rakyat Daha pada tahun 1526. "Istana Sultan Suriansyah, Rumah Bubungan Tinggi, kemungkinan masa itu masih berbentuk rumah betang dengan bahan utama dari pohon ilatung," sebutnya.

Antara istana dan sungai di daerah itu terdapat jalan darat. Di kawasan pinggir sungai juga terdapat bangunan di atas air yang dijadikan kamar mandi.

Mendekati Sungai Barito dengan Muara Cerucuk, terdapat rumah Syahbandar Goja Babouw, seorang Gujarat (India) bergelar Ratna Diraja. Kemudian di seberang Sungai Jagabaya dibangun masjid pertama, yang sekarang dikenal dengan Masjid Sultan Suriansyah.

"Sebenarnya pada masa Sultan Suriansyah abad ke-16, di dekat pertemuan sungai Keramat dengan Sungai Sigaling, terdapat pasar di atas tebing. Jadi ada dua pasar, air dan tebing," sambungnya.

Khusus pasar di atas air, merupakan ciri-khas dari perdagangan orang Banjar masa itu, sebagaimana juga rumah di atas air (lanting). "Pasar di atas air inilah yang menjadi cikal bakal Pasar Terapung Kuin dan berkembang sampai sekarang," tutupnya.(lan/gr/dye) Editor : Arief
#Pasar Terapung #Sejarah Banua