Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Baju Raksasa, Benda Bersejarah di Masjid Pusaka Nurul Iman

M. Syarifuddin • Kamis, 28 September 2023 | 07:44 WIB
BAJU RAKSASA: Replika baju Datuk Rangga ada di Masjid Pusaka Nurul Iman, Desa Puain Kanan, Kecamatan Tanta.
BAJU RAKSASA: Replika baju Datuk Rangga ada di Masjid Pusaka Nurul Iman, Desa Puain Kanan, Kecamatan Tanta.
TANJUNG - Masjid Pusaka Nurul Iman di Desa Puain Kanan, Kecamatan Tanta, Kabupaten Tabalong memiliki kisah bersejarah. Di dalamnya sampai kini menyimpan replika jubah manusia berukuran lebih dari tujuh meter tingginya.

Baju aslinya telah tiada, karena pemiliknya adalah pendiri masjid. Sudah ratusan tahun lamanya. Dia bernama Datu Rangga.

Baju itu sebelumnya sempat disimpan anak keturunan Datuk Rangga. Namun, lama kelamaan tidak bertahan. Kemudian dibuatlah replikanya. Kini, baju disimpan terlipat dalam lemari kaca di ruang utama masjid.

Pemerintah Kabupaten Tabalong mendapatkan mandat untuk menjaganya, karena ditetapkan menjadi situs bersejarah yang harus dilindungi. Selain bangunan dan pakaian raksasa itu, dawuh (bedug) dan cacatuk (pemukul) dawuh juga masuk sebagai benda tua, tongkat khutbah, serta bak penampungan air wudu.

Masjid berjarak lima kilometer dari ibu kota kabupaten. Luas area masjid 12 meter persegi, tepat di bibir sungai Tabalong.

Konon, tahun 1625 masehi di kampung Banua Usang sekarang Desa Puain Kanan tinggal empat bersaudara dari suku Dayak. Ketokohannya sangat dikagumi warga lainnya.

Keempat orang tersebut Datu Ranggama, Datu Ugap, Datu Siti Marhaji, dan Datu Lambung Mangkurat atau Datuk Ugut.

Ketika Raja Banjar Pangeran Suriansyah memeluk agama Islam, datanglah Habib Dayan ke Puain Kanan. Keempatnya menyambut bersama warganya.

Ajakan masuk Islam itu ternyata menjadi perbincangan keempat tokoh Dayak itu. Tiga memutuskan masuk Agama Islam, kecuali adik paling bungsu Datu Lambung Mangkurat.

Ketiganya mengucapkan syahadat di bawah pohon cempedak. Sementara si bungsu meninggalkan kampung halaman.

Setelah masuk Islam ternyata mereka diminta berdakwah ke daerah lain. Baik di sekitar Tabalong, maupun ke Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah.



Setelah beberapa tahun berdakwah, tahun 1638 Masehi, mereka memutuskan membangun masjid untuk salat berjemaah.

Malam Kamis, dengan disaksikan Habib Dayan, pembangunan tiang guru atau tiang utama penyangga masjid berdiri. Kemudian dinding dan lainnya diselesaikan berikutnya. Dalam waktu singkat, keesokan harinya, masjid dapat digunakan salat Jumat.

Budayawan, Masdulhak Andi mengatakan karena termakan usia, sejumlah bagian bangunan masjid usang dan rusak. Lalu, warga melakukan renovasi beberapa tahun kemudian. "Tepat 28 Juli 2009, Masjid Pusaka Nurul Iman direhab Pemkab Tabalong. Bagian dinding luar dilapis papan," terangnya, kemarin.

Camat Tanta, Adi Fajar menjelaskan sampai saat ini Masjid Pusaka Nurul Iman masih mendapat kunjungan dari wisatawan. "Sampai sekarang," jelasnya.

Ia yakin situs bersejarah itu akan lebih ramai lagi dikunjungi jika jembatan besar menyeberangi sungai Tabalong telah terbangun, sesuai perencanaan Pemkab Tabalong. "Rencananya mau dibangun jembatan beton," ujarnya.(ibn/gr/dye) Editor : Arief
#benda bersejarah