Perayaannya bukan hanya dilakukan secara kolektif, juga oleh hampir setiap keluarga muslim. Bukan hanya pada tanggal lahir Sang Rasul (12 Rabi’ul Awal), tapi selama satu bulan penuh.
Semarak Maulid makin terasa karena tradisi warga Balangan yang berada di luar daerah biasanya pulang kampung. Seperti layaknya pemudik Lebaran.
Pengamat budaya Kabupaten Balangan, Fahmi Wahid menyebut perayaan Maulid di Balangan identik dengan menggelar saruan atau mengundang famili, tetangga, dan teman untuk datang bersantap bersama. Saruan maulid di kalangan masyarakat Balangan dikenal dengan kata limit atau balimit. Tuan rumah menyediakan jamuan makan.
Secara teknis, tradisi ini tidak berbeda dengan daerah-daerah lain yang merayakan peringatan maulid serupa. Namun dalam konteks balimit di Balangan, ada pembagian tamu. Hal ini dilakukan untuk menghindari penumpukan tamu di rumah tertentu, sedangkan di rumah lain di kampung yang sama juga ada menyelenggarakannya. Tradisi itu turun-temurun. “Kami tidak tahu persis kenapa dikatakan demikian (balimit, red), dan sejak kapan terjadi. Tradisi ini sudah ada mulai bahari kala (sejak dulu, red)," kata Fahmi Wahid, Selasa (26/9) petang.
Para perwakilan keluarga yang akan mengadakan saruan maulid biasanya berkumpul di langgar atau masjid beberapa hari sebelum pelaksanaan. Itu dilakukan selepas salat berjemaah, untuk mengatur pembagian tamu.
Calon tamu didaftar terlebih dahulu, baik tamu dari lingkungan RT sendiri maupun dari kampung-kampung lain di sekitarnya. Setelah didapat nama-nama bakal tamu, dan dituliskan dalam sebuah daftar, kemudian daftar itu dibagi-bagi.
Misal, tamu nomor urut 1-20, menjadi tamu undangan di rumah ini. Nomor urut 21-35 menjadi tamu undangan di rumah berikutnya. “Jika nama kita masuk dalam daftar undangan 1-20, maka bukan berarti tidak boleh menghadiri saruan di rumah lain. Hanya saja, kita harus terlebih dahulu mendatangi saruan maulid di rumah di mana kita terdaftar, sebelum menghadiri saruan lain," paparnya.
Memenuhi undangan dimulai dengan datang pagi-pagi ke rumah pengundang. Para tamu disuguhi berbagai sajian kue dan air minum seperti teh, satrup (sirup), dan air kemasan lainnya.
Setelah menikmati kudapan berupa kue, para undangan menuju Masjid atau Langgar setempat untuk mendengarkan pembacaan syair atau doa-doa maulid, dan ceramah agama seputar kelahiran baginda Rasulullah SAW.
"Sesudah mengikuti rangkaian acara di masjid atau langgar tadi, para tuan rumah membawa tamu-tamu kembali ke rumah sesuai pembagian tamu atau daftar limit, untuk makan siang sebagai penutup kunjungan," terang Fahmi Wahid.
Selain memperingati kelahiran Rasulullah SAW, keutamaan perayaan maulid di Balangan kerap dimanfaatkan sebagai momentum untuk mempererat silaturahmi antar umat muslim, khususnya keluarga dan undangan. Juga mengabulkan hajat yang mengundang, agar senang undangannya didatangi. Lebih lagi sebagai rasa cinta kepada Rasulullah SAW, kemudian juga menambah ilmu pengetahuan agama Islam.
"Tradisi maulid ini rutin digelar, dan menambah suasana religius di Bumi Sanggam yang sangat menjunjung nilai-nilai religius dan toleransi antar umat beragama. Harapannya mudah-mudahan bulan Maulid semakin semarak dengan diperingati di berbagai wilayah. Tidak hanya di Kabupaten Balangan, juga di seluruh Indonesia sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim terbanyak di dunia," pungkasnya.(mr-160/gr/dye) Editor : Arief