Lokasinya di Jalan Brigjen H Hasan Basri, masuk Desa Banua Padang Kecamatan Bungur. Berjarak kurang lebih 3,5 kilometer dari pusat kota Rantau.
Pemilik barang antik yang dijadikan kedai tersebut, Muhammad Nurdin mengaku awal mula ketertarikan untuk mengoleksi barang-barang jadul ketika tersedia di rumah orang tuanya dulu. “Banyak peninggalan barang dari almarhum kakek dan nenek saya. Dari jam dinding, guci, lemari, sumpit, hingga foto-foto tua hitam putih,” ucapnya.
Ia tertarik, saat itu belum mengoleksi. Ia coba bertanya sejarah setiap barang-barang antik yang ada di rumah. Ternyata punya nilai histori yang menarik. “Cerita dan sejarah dari benda-benda itulah yang menarik, serta sebagai pengetahuan untuk saya pribadi,” jelasnya.
Perlahan benda-benda tersebut dikumpulkannya. Sambil dibersihkan satu persatu, dan dijadikan satu tempat.
Lama kelamaan, Nurdin akhirnya berpikir kenapa barang-barang antik tersebut tidak dimanfaatkan agar bisa dilihat banyak orang. “Akhirnya saya buat tempat ngopi. Supaya bisa menikmati koleksinya sambil duduk santai,” tuturnya.
Tempat ngopi itu terealisasi 2021. Jadilah tempat santai Tempo Doeloe di Kota Rantau dengan tema jadul atau antik, dibarengi dengan latar belakang benda-benda koleksi.
“Alhamdulillah respons masyarakat khususnya generasi muda, ternyata sangat antusias,” tuturnya.
Bahkan lokasinya dijadikan generasi muda untuk spot foto, dan jadi museum kecil tempat mereka ngumpul. Mereka juga tertarik bertanya tentang benda-benda yang dianggap lahir dari masa nenek kakek mereka.
“Jadi yang kami tawarkan dari tempat nongkrong ini adalah nuansa nostalgia era 60 sampai 70 dengan segala kenangan akan barang-barang antik,” jelasnya.
Menurutnya, tempat nongkrongnya bisa dikatakan sebagai lokasi bagi komunitas untuk berkumpul sambil berdiskusi. “Kebanyakan datang komunitas sepeda ontel, motor dan mobil tua, pencinta alam, serta para penghobi barang-barang jadul,” tuturnya.(dly/gr/dye) Editor : Arief