Bersama Tim Ahli Cagar Budaya Kota Banjarmasin, Dosen Sejarawan FKIP Universitas Lambung Mangkurat Mansyur menyimpulkan dari hasil kajian awal benda yang ditemukan di Langgar Al Hinduan yang berlokasi di Jalan Kapten Tandean Banjarmasin Tengah itu diduga kuat adalah ketel uap dengan model Cochran Boiler.
“Produksinya sekitar tahun 1885, untuk small river steamer (kapal uap kecil yang melayari sungai) berjenis boiler pipa air (water steam) dengan bahan bakar batu bara,” terang Mansyur, kemarin (17/9).
Menurutnya, ada beberapa alasan yang menguatkan benda itu potongan dari kapal uap. Diawali dengan penemuan serpihan batu bara di dalam temuan tersebut. Kemudian juga didapatkan bersamaan dengan beberapa pecahan keramik di area lokasi rehabilitasi langgar.
Didukung juga kesamaan atau kemiripan bentuk budaya material dengan ketel uap model Cochran Boiler dari hasil analisis temuan sebelumnya.
"Temuan sebelumnya pada tahun 1997. Pernah ditemukan sisa kapal masa pemerintahan Hindia Belanda yang karam di bantaran Sungai Martapura di Jalan Kapten Pierre Tendean. Menguatkan juga ada sumber dari Laporan Balai Arkeologi Kalsel yang diterbitkan tahun 1998," bebernya.
Dalam laporan, kata Mansyur, dituliskan sejarah perkembangan daerah Banjarmasin pada saat Belanda berkuasa secara politis dan ekonomis, frekuensi pemanfaatan kapal jenis tarik atau gandeng yang dikelola oleh perusahaan Hindia Belanda. Aktivitas tersebut tidak hanya dilakukan di sekitar perairan muara, melainkan sampai ke pedalaman daerah Kalimantan.
"Banjarmasin adalah pusat kegiatan ekonomi dan perdagangan di Kalsel. Melalui Sungai Barito dan Sungai Martapura sebagai sungai terbesar dan terpenting di daerah ini, dan menjadi urat nadi utama perekonomian sejak dulu," jelasnya.
Sebagai akademisi dan sejarawan, Mansyur menyebut adanya penemuan benda lama seperti kapal itu sangat memberikan nilai positif. Temuan sisa kapal karam itu memiliki arti yang cukup penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan, dan sebagai bukti sejarah.
Temuan kapal berusia kurang lebih 97 tahun di bantaran Sungai Martapura diyakininya dapat menjadi sumber studi yang sangat berharga, khususnya menyangkut teknologi dan konstruksi kapal dari masa penjajahan Belanda di Nusantara.
"Sekaligus sebagai satu-satunya data mengenai konstruksi dan teknologi kapal sejenis yang dapat diperoleh selama ini. Selebihnya keberadaan kapal tersebut merupakan sumber informasi untuk memahami sejarah aktivitas transportasi air pada jalur perdagangan di Banjarmasin sekitar awal abad ke-20 Masehi," katanya.
Dari hasil kajian, kapal tersebut berasal dari masa VOC di Nusantara. Ini dikaitkan dengan penemuan mata uang tembaga yang dikeluarkan VOC dengan angka tahun 1790 hingga Nederlandsch Indie berangka tahun 1945.
Dalam hubungannya dengan perkembangan teknologi metalurgi, rolling plate dan profile (pelat baja dan besi siku) yang digunakan dalam pembuatan kapal itu baru mulai diproduksi pada permulaan abad ke-20. "Dapat disimpulkan bahwa kapal besi berkisar pada tahun 1920," ujarnya.
Kapal tersebut merupakan sumber data mewakili sebuah tahapan teknologi transportasi sungai yang melibatkan adaptasi teknis fungsional dengan memanfaatkan sarana transportasi air.
Dari sumber jurnal Hartatik berjudul Situs Arkeologi Bawah Air di Kalimantan Penelitian Dan Pengembangan dalam Kindai Etam Vol.5 No.1 November 2019 Balai Arkeologi Kalimantan Selatan, Balai Arkeologi Banjarmasin telah melakukan penelitian di Sungai Martapura yang terletak di Kampung Sungai Mesa pada tahun 1997.
Penelitian itu diawali dengan adanya berita dari media dan masyarakat tentang adanya harta karun berupa mangkuk keramik, mata uang logam kuno, kepala peluru, dan pelat besi di kawasan jalur hijau di wilayah tersebut. Dari informasi itu dilakukan peninjauan lapangan oleh tim gabungan Balai Arkeologi Banjarmasin 1 dan Kanwil Depdikbud Provinsi Kalsel.
"Hasil peninjauan di Sungai Martapura saat sedang surut tampak adanya bagian kemudi kapal, dengan bagian badan kapal yang diperkirakan masih tenggelam," tuturnya.
Peninjauan itu kemudian ditindaklanjuti dengan penelitian ekskavasi penyelamatan dengan tujuan untuk mengetahui bentuk kapal dan hubungan temuan lepas dengan keberadaan kapal.
Lebih jauh penelitian ini berupaya untuk memahami transportasi air sebagai mekanisme budaya masa lalu dan upaya penyelamatannya. Kesimpulan akhir kemungkinan ada hubungan antara temuan ketel uap di lokasi Al Hinduan dengan bangkai kapal yang ditemukan tim Arkeolog tahun 1997.
Pada masa Hindia Belanda tahun 1920-an, sudah beroperasi sedikitnya dua kapal uap berjenis small river steamer berjenis boiler pipa air (water steam) dengan bahan bakar batu bara.
"Sumber gambar KITLV terdapat visualisasi kapal uap yakni Kapal Pemerintah Hindia Belanda S.S. Selaton (model stoomboot) melayari Sungai Barito tahun 1920. Kemudian kapal Negara, dengan model raderboot," tutupnya.(lan/gr/dye) Editor : Arief