Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Kintung, Alat Musik Tradisional dari Kabupaten Banjar

M. Syarifuddin • Kamis, 14 September 2023 | 10:36 WIB
MEMAINKAN MUSIK: Muhammad Husairi (tengah) saat membunyikan irama kintung bersama Grup Kintung
MEMAINKAN MUSIK: Muhammad Husairi (tengah) saat membunyikan irama kintung bersama Grup Kintung
Di Kabupaten Banjar, ada sebuah alat musik tradisional bernama kintung. Biasanya dimainkan pada saat selesai musim tanam atau musim kemarau. Dipercaya sebagian orang bisa mendatangkan turunnya hujan.

Ketua Pengurus Grup Kintung “Bina Bersama” Bincau Muara, Gusti Jadri (64) menuturkan grup musiknya tersebut berdiri sekitar tahun 2000-an. Masih eksis hingga sekarang.

Meskipun jarang ditampilkan, kecuali pada event-event tertentu. "Terakhir kali kami dipanggil untuk tampil di acara HUT RI ke-78 dan HUT Pemkab Banjar ke-73 di RTH Ratu Zalecha," ujarnya.

Jadri menjelaskan bahwa masyarakat Banjar banyak yang mempercayai kalau katak berbunyi itu tanda akan datangnya hujan.

"Nah, dengan memainkan alat musik kintung ini, untuk menarik perhatian katak agar mereka berbunyi seperti biasanya, tanda akan turunnya hujan," jelasnya, Rabu (13/9) siang.

Kintung sudah ada sedari nenek moyang masyarakat Banjar, khususnya dimainkan untuk ritual meminta hujan. Selain itu, juga sebagai musik pengiring tarian pascapanen.

Jadri menceritakan dulu pertanian banyak yang menggunakan tadah hujan untuk perairannya. Ketika kemarau maka masyarakat akan menggelar salat Istisqa di area lapang persawahan berdoa agar hujan turun. “Setelah itu, baru memainkan musik kintung tersebut. Dulu meriah sekali," kenangnya.

Diakui Jadri, sekarang orang-orang sudah banyak meninggalkan budaya musik kintung ini. "Anak mudanya sudah disibukkan dengan banyaknya kegiatan dunia zaman sekarang," bandingnya.

Tapi, ia tetap akan melestarikannya dengan cara membuat Grup Kintung "Bina Bersama" Bincau Muara. "Syukurnya masih ada anak muda yang ikut," ucap mantan Kepala Desa Bincau Muara yang sudah purna tugas itu.

Muhammad Husairi satu-satunya pembuat alat musik kintung yang tersisa di Desa Bincau Muara. Ia menjelaskan membuat alat musik kintung itu susah-susah mudah.

"Yang susah itu, kita harus cari bambu yang lurus dan betul-betul sudah kering. Kalau bengkok dan tidak kering, maka suara yang dihasilkan tidak keluar dengan padat. Pokoknya tidak enak didengar," ujar pria berumur 62 tahun itu.



Alat musik kintung itu ada tujuh bagian bambu dengan panjang yang berbeda-beda. Panjang pendeknya tujuh bambu itu untuk mengatur not nadanya. Pemainnya juga ada tujuh orang. Setiap orang memainkan satu bambu. “Dipukulkan ke batang pohon kayu bungur untuk mengeluarkan bunyinya," jelasnya.

Husairi menceritakan keahliannya membuat alat musik kintung didapatkan dari ayahnya yang juga seorang pemain alat musik kintung. "Mulai halus (kecil, red) sudah melihat ayah memainkannya. Jadi untuk mengolah dan mengatur suara bambunya sudah hapal," kenangnya.

Ia mengisahkan pada masa kecilnya itu, kintung menjadi permainan musik yang dimainkan setiap desa di Kabupaten Banjar. "Setiap desa jenis ketukan iramanya beda-beda. Jadi punya ciri khasnya masing-masing," ujarnya.

Musik kintung juga dilombakan di berbagai acara pemerintahan. "Di Banjarmasin pernah main di acara pawai. Diarak di bak mobil. Paling berkesan itu grup saya sewaktu muda pernah bermain saat Presiden RI kedua, Pak Suharto meresmikan Jembatan Barito," kenangnya.

Husairi berharap budaya musik kintung tak lekang oleh zaman, dan masih bisa diteruskan generasi muda. "Makanya kami masih aktif mengajak anak muda untuk ikut latihan, dan tampil mengisi acara dengan musik kintung," tutupnya.(mr-159/gr/dye) Editor : Arief
#Seni dan Budaya