Bahkan kondisi ini pernah diberitakan dalam koran Het Nieuws Vande Dag Voor Nederlandsh-Indie, Woensdag 6 November 1929 (vijf bladen no. 255. 34e jaargang).
Saat itu artikel berjudul ‘Kekeringan di Borneo’. “Diterangkan saat itu, terdapat banyak tempat di Borneo kekurangan air minum karena kekeringan jangka panjang,” terang sejarawan FKIP ULM, Mansyur.
Dalam pemberitaan itu dipaparkan, terjadi pendangkalan beberapa sungai dan sumur di Martapura dan Hulu Sungai. Debit air bersih sangat minim. Air minum didapatkan dengan susah payah. “Seperti pada wilayah Gadung di Rantau, sungai benar-benar kering, sehingga gerobak sapi pun bisa masuk ke dalamnya. Sebagian besar di tempat terdekat, seperti Bandjermasin, air payau atau asin, ditandai intrusi/masuknya air laut,” terangnya.
Dia menambahkan, dalam koran tersebut juga dipaparkan bahwa Pemerintah Hindia Belanda sudah memikirkan pasokan air yang sudah lama didambakan penduduk Bandjermasin.
Yakni membangun fasilitas umum air bersih. Bahkan Dewan Kota Bandjermasin memang telah menangani masalah ini. Namun, kesepakatan belum tercapai dengan pejabat di Batavia.
Pada saat terjadinya kekeringan panjang di Banjarmasin yang terjadi di bulan November 1929, pendiri pabrik air minum kemasan pertama di Hindia Belanda (Hygiea), Mr Hendrik Freerk Tillema (H.F. Tillema) melakukan perjalanan ke Kota Banjarmasin.
Ia memperhatikan Banjarmasin terletak pada wilayah yang rendah karena topografinya berlumpur. Ketika menyusuri Kota Banjarmasin, yang pertama terlihat adalah kehadiran kontainer di rumah-rumah penduduk.
Kontainer dimaksud adalah wadah atau tempat menampung air hujan. Penduduk Eropa juga menggunakan air hujan ini untuk air minum dan kebutuhan lainnya. Air hujan cukup untuk mandi dan mencuci. Sementara penduduk asli Banjar menggunakan air kali.
Pada saat kekeringan, penduduk mengalami masalah besar. Tempat pasokan air bersih kosong. Sementara air sungai tidak layak dikonsumsi. Air minum harus dipasok dari tempat (sumber air) yang tidak mengalami pengaruh air laut.
Sebagai alternatif hanya ada air dari tempat kotor yang mengering dari kali. “Tillema saat itu banyak memberikan masukan dan saran untuk Dewan Kota mengenai masalah air bersih,” tuntasnya.(mof/gr/dye) Editor : Arief