Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Gelar Haji di Masyarakat Banjar

M. Syarifuddin • Selasa, 12 September 2023 | 09:39 WIB
PERLU PERJUANGAN: Jemaah asal tanah Banjar memerlukan perjuangan lebih untuk bisa menyandang gelar haji dan hajjah pada era kolonial. | FOTO: MANSYUR UNTUK RADAR BANJARMASIN
PERLU PERJUANGAN: Jemaah asal tanah Banjar memerlukan perjuangan lebih untuk bisa menyandang gelar haji dan hajjah pada era kolonial. | FOTO: MANSYUR UNTUK RADAR BANJARMASIN
BANJARBARU - Penyematan gelar haji maupun hajjah sangat akrab dan populer pada masyarakat Banjar dan penduduk Indonesia umumnya. Gelar ini resmi disandang jemaah usai menunaikan rangkaian ibadah haji. Terutama setelah wukuf di Padang Arafah.

Ketua Lembaga Kajian Sejarah Sosial dan Budaya (LKS2B) Kalimantan, Mansyur mengatakan penyematan kata haji sebagai gelar bagi seseorang ini termasuk unik.

Diungkapkannya, bahwa gelar ini hanya ada di wilayah Asia, terutama Melayu Asia Tenggara. Sementara di luar negeri, di Arab Saudi atau negara negara berpenduduk mayoritas muslim lainnya, jarang terdengar memakai gelar haji.

Pada masyarakat Banjar, gelar haji dan hajjah akan otomatis melekat bagi yang sudah menunaikan ibadahnya ke Mekkah. Selain itu, gelar ini juga sebagai tanda status sosial tinggi dari strata kekayaan. "Secara tersirat, ada kebanggaan tersendiri ketika seseorang menyandang gelar haji atau hajjah," ucap Dosen Prodi Sejarah, FKIP ULM Banjarmasin ini.

Bahkan setiap kali menjelang pilkada/pileg di Tanah Banjar, gelar haji selalu terpampang di poster, hingga iklan baik media cetak dan elektronik.

"Lihat saja sekarang kontestan akan menampilkan huruf H di depan namanya. Terlepas dari niat dan sebagainya, gelar haji menjadi alat mengesahkan bahwa kontestan adalah muslim, saleh, dan taat pada ajaran Islam," jelasnya.

Mansyur menunjukkan sebuah artikel yang memperkuat bahwa ada kebanggaan tersendiri ketika seseorang menyandang gelar haji. Judulnya 'Asal Usul Gelar Haji dan Kebiasaan Penisbatannya'.



Dalam artikel itu, ternyata para haji dan hajjah masih sering melegitimasi diri terhadap gelar barunya. Tidak sedikit dari mereka yang marah ketika gelar barunya itu tidak dicantumkan dalam forum-forum resmi.

Bahkan meminta disapa dengan sebutan 'Pak Haji' dan 'Bu Hajjah'. "Asal usul gelar haji di Tanah Banjar memang sangat sulit ditentukan kapan mulai ada," katanya.

Secara temporal atau kurun waktunya, diduga pemakaian gelar haji adalah budaya masyarakat Melayu Banjar sebagai bagian penghargaan. "Istilahnya gelar haji ini adalah sebagai apresiasi dari tingkat kesulitan yang telah mereka lalui hingga menyelesaikan ibadah tersebut," katanya.

"Mulai dari persiapan, mengumpulkan modal, hingga rangkaian ibadah haji yang memerlukan ketahanan fisik," kata Mansyur.

Sebagai perbandingan, pada masa lalu, naik haji sangat sulit. Butuh perjalanan berbulan-bulan dengan kapal laut. Belum lagi banyak yang meninggal di perjalanan untuk menunaikan ibadah maha berat kala itu.

"Karena masa itu perlu modal dan perjuangan yang besar untuk menunaikan haji," tekannya.(zkr/gr/dye) Editor : Arief
#Sejarah Banua #HAJI dan UMRAH