***
Sejarawan Banua, Mansyur menukil riset Idwar Saleh tentang Banjarmasin bahwa Kampung Bagau muncul sejak abad 19. Pada abad itu, kebiasaan Ngayau dan sebagainya belum dapat dihapuskan di wilayah Borneo. Kebiasaan ini menjadi ancaman keamanan kampung-kampung di Karesidenan Borneo bagian selatan dan timur, sekarang Kalimantan Tengah (Kalteng).
Seorang penduduk Kampung Mandomai Kalteng bernama Rajam pindah ke Banjarmasin. Rajam dan keluarganya memiliki wilayah otonom, yakni sebuah anak sungai yang merupakan bagian dari anak Sungai Martapura. Tepatnya di seberang Teluk Tiram.
“Sungai ini diberi nama Sungai Bagau. Gau dalam Bahasa Dayak artinya cari. Jadi Sungai Bagau artinya Sungai Bacari dalam pengertian sungai tempat mencari rezeki untuk hidup,” bebernya.
Keberadaan kampung Bagau ini, terang dosen Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) ini, juga sesuai The Tijdschrift voor Nederlandsch-Indië (Jurnal Hindia Timur) tahun 1838.
“Pada jurnal itu disebutkan Kampung Bagau adalah salah satu kampung yang ada di Ibu Kota Banjarmasin,” imbuhnya.
Dalam kamus bertitel Aardrijkskundig en statistisch woordenboek van Nederlandsch Indie, tahun 1861 yang direpro ulang oleh VJ Veth tahun juga memaparkan wilayah Bagaauw (Bagau) adalah kampung utama yang menjadi wilayah Banjarmasin.
Diperkirakan Sungai Bagau, pada awal abad ke-20, menjadi tempat sakral. Penulis Amir Hasan dalam bukunya Suluh Sedjarah Kalimantan menyebutkan Muara Bagau sebagai tempat keramat pertama dari 20 tempat khusus yang dihuni oleh orang gaib di wilayah Banjarmasin dan sekitarnya.
Dengan lokasi lumayan strategis, wilayah Bagau pada masa Hindia Belanda juga difungsikan sebagai tempat penyimpanan bahan bakar bensin. Sebelum masuknya Jepang ke Kota Banjarmasin 8 Februari 1942, lokasi ini dibumihanguskan sehingga menjadi lautan api. Pasar Baru, Ujung Murung, Pasar Sudimampir, dan Pasar Lima juga dibakar.
Dalam perkembangannya, pascakemerdekaan, letak geografis Provinsi Kalsel yang strategis terhadap akses perdagangan barang dan jasa mengubah Bagau beralih fungsi menjadi lokalisasi. “Sayangnya, belum didapatkan data pasti kapan dimulainya bisnis ini di wilayah tersebut,” ujarnya.
Dari memori pelaksanaan tugas Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalsel tahun 1980, tercatat WTS di Kalsel berjumlah 615 orang, dan mucikari sekitar 100 orang. Dari jumlah ini yang terbanyak terdapat di Lokalisasi Bagau dan Lokalisasi Pembatuan, Kabupaten Banjar.
Tahun 1990, lokalisasi ini ditutup. Namun masih beroperasi dalam senyap. Dari data tahun 1990, jumlah WTS adalah 287 orang dengan jumlah germo 18 laki laki dan 7 orang perempuan. “Karena itulah, pada tahun 1991, Lokalisasi Bagau ditutup secara resmi oleh Pemko Banjarmasin,” terang Mansyur.(gmp/gr/dye) Editor : Arief