Faktanya, lagu itu karya seorang musikus asal Kotabaru. Nama beliau M Syukri Munas.
Munas wafat pada 24 Januari 2010 silam. Radar Banjarmasin lantas mengunjungi rumah keluarganya di Jalan Pangeran Kacil, Pulau Laut Sigam.
Rumah kayu sederhana itu dihuni istri almarhum, Nursehan (73) dan kedua putranya, Rifki Rasyada (21) dan Rifka Rasyda (19).
Ketika ditanya tentang sosok Munas, Nursehan terharu. Matanya berkaca-kaca.
"Alhamdulillah, akhirnya ada yang mau datang untuk mengetahui siapa pencipta lagu Halin," ungkapnya.
Di matanya, Munas adalah seniman yang berhak memperoleh apresiasi lebih dari masyarakat Kalsel.
Bukan hanya Halin, Munas juga mencipta lagu berjudul Pusang, Dandam Marindu, dan Mencari Maras. Semuanya bernada balada.
Diceritakannya, M Syukri Munas lahir di Kotabaru pada 4 Juni 1949. Sejak SD, Munas sudah hobi bernyanyi.
Masuk SMP, ia bergiat di grup musik orkes. Oh ya, Munas juga bergiat di dunia teater.
Lulus sekolah, Munas bergabung ke Badan Koordinasi Kesenian Nasional Indonesia (BKKNI).
Munas kerap wara wiri di lomba-lomba musik sebagai juri. Pada tahun 70-an, ia menulis 20 lagu. Dan paling populer adalah Halin.
"Saya ingat betul, suami mengarang lagu ketika orang-orang sedang terlelap tidur. Sebagai istri, saya hanya bisa menemani dengan menyiapkan kopi kegemarannya," kisahnya.
Dinyanyikan orang lain, Halin booming. Baru pada 2008, Munas menyanyikannya sendiri dan direkam.
"Saat rekaman, almarhum sudah sakit-sakitan. Namun karena semangat keseniannya begitu menggebu, masih ditahan-tahannya," lanjutnya.
Pada akhir tahun 2019, Munas juri festival drumband se-Kalsel. Ketika menjuri, ia jatuh pingsan.
Munas dibawa ke Rumah Sakit Pangeran Jaya Sumitra. Dirawat selama sepekan di sana.
Membaik, ia dibawa pulang ke rumah. Sepekan kemudian, kondisinya memburuk lagi dan harus dirujuk ke Rumah Sakit UIin. Dua hari dalam perawatan, Munas mengembuskan napas terakhir.
"Sebelum meninggal, almarhum sempat berpesan ke Pak Mahmud di Kotabaru agar lagu yang sudah direkam diperbanyak dan dibagikan," kenang Nursehan.
Sampai sini, Nursehan tak lagi kuat bercerita. Ia disergap kenangan dan terlampau sedih.
Anaknya Rifki Rasyada pun mengambil alih wawancara. "Saya senang karya ayah masih didengarkan masyarakat," ujarnya.
Namun, ia menyesalkan, mereka yang meng-cover lagu ayahnya tak pernah meminta izin kepada keluarga.
"Keluarga tidak mengharapkan apa-apa. Setidaknya izin dulu, sebagai adab budaya kita," tutupnya.
Terpisah, Kabid Event, Pertunjukan, dan Ekonomi Kreatif Disparpora Kotabaru, Rudi Nugraha berjanji pemkab takkan melepas tanggung jawab.
Dispora akan mendaftarkan karya-karya Munas ke Kementerian Hukum dan HAM untuk mendapatkan hak ciptanya. Ini agar HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual) Munas terlindungi.
"Insyaallah, secepatnya kami fasilitas ke HAKI. Agar negara melindungi kepemilikan ahli waris," kata Rudi.
Ia bersyukur, semakin banyak yang "ngeh" dengan keberadaan M Syukri Munas. "Mari perbaiki dan arsipkan lagi. Agar masyarakat luas mengetahui sosok maestro lagu Banjar asal Kotabaru ini," tambahnya. (jum/gr/fud) Editor : Arief