Tokoh masyarakat setempat, Darmansyah tinggal di Es Terang ketika kawasan itu baru dibuka.
Dia ingat, kala itu kawasan ini masih rawa dan hutan. Belum menjadi permukiman padat seperti sekarang.
Kisah ini berawal dari kedatangan seorang pedagang kain asal Alabio, Hulu Sungai Utara, yang merantau ke Banjarmasin. Namanya Haji Muhammad.
Ia seorang saudagar sukses yang punya nama di Pasar Besar (sekarang Pasar Ujung Murung).
Di Teluk Dalam, ia membeli sebidang tanah luas. Sisi kanan jalan dibangunnya menjadi perumahan. Sisi kiri dijadikan tanah kaplingan siap jual.
"Perumahan ini mulai dibangun tahun 1955. Haji Muhammad membangunnya bersama iparnya Haji Ardi. Keduanya kemudian menamainya Kompleks Es Terang," ujarnya kepada Radar Banjarmasin, Kamis (17/8).
Dinamai begitu karena di sana berdiri pabrik es balok milik Haji Muhammad. "Di Ujung Murung, kiosnya dinamai Toko Terang. Jadi beliau ini punya dua usaha, berjualan kain dan es," tambah Ketua RT 20 ini.
Perumahan di Es Terang kemudian dipasarkan kepada para pedagang asal Hulu Sungai. "Seperti pedagang dari Alabio, Amuntai, dan Barabai. Laku sekitar 15-20 rumah," sebutnya.
Tak cukup sampai di situ, hartawan ini kemudian membeli pembangkit listrik untuk menerangi kompleksnya.
Sebuah kemewahan, mengingat saat itu listrik adalah barang langka. "Sepanjang Teluk Dalam, kompleks kami jadi yang paling terang pada malam hari," kenangnya.
Namun, pabrik es itu hanya bertahan selama 17 tahun. Pada akhirnya, mesin-mesinnya dibongkar pemiliknya lantaran pabrik itu terus menerus dirundung gangguan.
"Kerusakannya aneh-aneh, pemiliknya sampai bingung," kata Darmansyah.
"Di depan kompleks, persis dekat toko bangunan itu, dulunya ada dermaga untuk kapal-kapal nelayan yang singgah hendak membeli es balok. Satu balok berukuran tinggi 1,4 meter dan lebar 25 sentimeter. Jadi pabrik ini termasuk yang paling besar di kawasan Kelayan dan Pasar Lima," lanjutnya.
Tahun 70-an, listrik PLN mulai mengaliri permukiman di Banjarmasin. Listrik di Es Terang tak lagi eksklusif.
Anak keturunan Haji Muhammad kemudian menyebar, pindah ke Balikpapan dan Jawa. "Sekarang tersisa buyutnya yang masih tinggal di sini," tutup Darmansyah. (lan/gr/fud) Editor : Arief