Sumur itu terletak di Jalan Sukaramai, tepat di belakang Taman Ratu Zalecha.
Selain tak pernah surut, air di sumur ini juga bersih dan bisa langsung diminum tanpa direbus. Oleh masyarakat, air sumur ini dijuluki "banyu sentral".
Air dari sumur ini pula yang dibawa Gubernur Kalsel Sahbirin Noor dalam prosesi penyerahan air dan tanah nusantara kepada Presiden Joko Widodo di titik nol kilometer IKN, Kaltim, Maret 2022 lalu.
Sekjen Yayasan Sulthan Adam, Gusti Andriansyah mengatakan, dari penuturan orang terdahulu, sumur ini tak bisa dipisahkan dari sosok ulama besar asal Martapura, Guru Zainal Ilmi.
"Pembuatan sumur ini diperkirakan sebelum beliau wafat pada tahun 1932," katanya.
Kala itu, Martapura dilanda kekeringan besar. Lalu Guru Zainal Ilmi menyarankan agar digali sebuah sumur. "Alhamdulillah berkat karamah yang dimiliki beliau, sejak digali sampai sekarang sumurnya tidak pernah kering," ujarnya.
Padahal, setiap hari airnya terus diambil. Dimasukkan ke dalam jeriken, dinaikkan ke gerobak, dan dijual ke para pedagang makanan dan minuman di Pasar Martapura.
"Airnya sangat bersih, bahkan saya sendiri meminumnya setiap hari. Tanpa direbus. Tidak pernah sakit perut," ujar Andri yang juga Kabag Humas Perumda Pasar Bauntung Batuah Banjar ini.
Lokasi sumur ini hanya berjarak sekitar 100 meter dari Pasar Martapura.
Pantauan Radar Banjarmasin pada Selasa (8/8), meski saat ini kemarau memicu krisis air bersih di sejumlah daerah di Kalsel, namun air di sumur itu masih melimpah.
Ada sekitar 50 penjual air yang memanfaatkan sumur ini. Salah satunya Arya. "Syaratnya, asalkan mengambil dengan ditimba, tidak boleh pakai mesin pompa," jelasnya.
Sekali angkut, Arya membawa 16 blek. Satu blek dengan kapasitas 20 liter. "Jadi sekali angkut membawa 320 liter," sebutnya.
Dalam sehari, seorang penjual air bisa lima kali bolak balik kemari. Kalau 50 orang berarti 250 kali. Karena sekali angkut bisa 320 liter, maka saban hari setidaknya ada 80 ribu liter air yang diambil dari sumur ini. (ris/gr/fud) Editor : Arief