Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Sayembara Menangkap Buaya di Zaman Walanda, Seekor Dibayar Dua Gulden

M. Syarifuddin • Selasa, 8 Agustus 2023 | 16:32 WIB
TEROR REPTIL: Potret hitam putih dari arsip kolonial. Tampak buaya yang telah dibunuh oleh warga Banjarmasin. 
TEROR REPTIL: Potret hitam putih dari arsip kolonial. Tampak buaya yang telah dibunuh oleh warga Banjarmasin. 
WARGA Balikpapan dibuat heboh oleh buaya yang berkeliaran di perairan kilang minyak Pertamina.

Di masa lalu, warga Banjarmasin juga pernah dibuat resah oleh reptil itu. Bahkan, sampai disayembarakan. Siapa yang menangkapnya bakal diganjar hadiah.

Akibat teror buaya itu, warga Banjarmasin sampai takut mendekati di sungai. Sungai yang dulunya tenang, kini menjadi mencekam.

"Dari beberapa catatan orang Belanda yang pernah berdiam di Banjarmasin, sejak tahun 1858 hingga 1940, kemunculan buaya di sungai masih begitu menakutkan," ujar dosen sejarah Universitas Lambung Mangkurat, Mansyur.

Mengutip tulisan Boomgard (2001), buaya menjadi penyebab kecelakaan yang paling mematikan di Borneo bagian selatan.

Mengatasi persoalan ini, pada 1858, pemerintah Hindia Belanda mulai memberlakukan premi. Semacam hadiah untuk orang yang bisa menangkap dan membunuh buaya. Apalagi sampai menyerahkan telur buaya untuk dimusnahkan.

Sayangnya, program "pemberian hadiah" ini tidak sukses. Hanya sedikit orang yang tertarik memburu hadiah di balik penangkapan buaya.

"Buaya dianggap sakral oleh masyarakat Banjar maupun masyarakat Dayak," terangnya.

Namun, kesakralan ini mulai tergerus sejak meningkatnya harga kulit buaya sekitar tahun 1925. "Akhirnya, perburuan buaya pun meningkat dengan pesat," tukasnya.

Sisi lain, naiknya harga kulit buaya disertai misi "balas dendam" seakan jadi motivasi urang Banjar untuk mulai berburu buaya di Sungai Barito.

"Termasuk di Sungai Martapura dan anak sungainya. Uniknya orang Belanda pun seakan benci dengan mahluk air ini,” terangnya.

"Buaya kerap memangsa manusia, ternak hingga hewan peliharaan. Wabah buaya ini sempat memusingkan pemerintah kolonial di Banjarmasin," sebutnya.

Soal binatang predator ini, Mansyur bercerita, pada Sabtu malam tahun 1910, penduduk lokal Banjar yang tinggal di sungai yang berada di sebelah alun-alun di Bandjermasin diserang saat mandi.

Kala itu korbannya mengalami luka parah di kepala dan pipi. "Ini sesuai tulisan Koran Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, edisi 15 Januari 1910," terangnya.



Warga Banjarmasin pun mulai memikirkan cara menyingkirkan si monster. Apalagi dalam beberapa bulan terakhir tahun itu, penduduk Kuin makin menderita karena ulah buaya.

Sebagai upaya balas dendam, warga kampung sepakat menangkap binatang mengerikan ini dengan memasang umpan dan kail. Bahkan penduduk rela urunan untuk membayar pemburu buaya sebesar f 2 (dua gulden) untuk masing-masing hewan yang ditangkap.

Upaya ini membuahkan hasil ketika buaya tangkapan pertama dengan panjang sekitar 3,1 meter diarak dan dipertontonkan di hadapan warga di Kuin.

"Kejadian ini terjadi pada tanggal 2 Mei 1910," sebut pengajar di FKIP itu.

Peristiwa serupa juga terjadi di Soengei Bagaoe (Sungai Bagau). Pada tanggal 11 Mei 1914 silam, sepasang suami istri bersama anak mereka pulang ke rumahnya dengan menaiki Jukung.

Sekitar satu mil dari dermaga, jukung tersebut tersandung pada sebuah benda yang dikira pohon. Padahal itu seekor buaya. (mof/gr/fud) Editor : Arief
#Buaya #Sejarah Banua