Jembatan Petir menghubungkan dua desa. Desa Kurau di Kecamatan Kurau dan Desa Kurau Utara di Kecamatan Bumi Makmur.
Sebelumnya, secara administratif jembatan ini berada di wilayah Kurau. Namun setelah terjadi pemekaran, otomatis juga masuk ke wilayah Bumi Makmur.
Penuturan warga sekitar, jembatan itu sebenarnya sudah tua. Namun mereka tak tahu persis setua apa.
Akan tetapi jika ditanya penyebab penamaannya, warga setempat memberikan jawaban yang sama: lantaran suaranya.
"Namanya berasal dari suara yang muncul saat jembatan itu dilintasi ban sepeda motor atau mobil. Akhirnya dikasih nama Jembatan Petir," ungkap Majid.
Pada siang hari, jembatan itu selalu mengeluarkan suara berisik. Apalagi pas malam hari, suaranya menggelegar. Lama kelamaan, nama Jembatan Petir pun melekat.
Kepala Desa Kurau Utara, Bahrani B mengatakan, suara keras itu sudah menjadi ciri khas Jembatan Petir. Menurutnya, suara berderak itu memang berasal dari konstruksi jembatan.
"Papan-papan kayu di Jembatan Petir tidak dipaku sama sekali, hanya dijepit di kedua sisinya dengan besi. Ketika dilintasi kendaraan, terjadi gesekan dan mengeluarkan bunyi," terangnya.
Meski sudah uzur dan telah ada jembatan baru, warga setempat tetap memanfaatkan Jembatan Petir. Alasannya, jarak menuju jembatan baru itu lumayan. (sal/gr/fud) Editor : Arief